Kompas.com - 28/05/2014, 11:52 WIB
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Wakil Wali Kota Bandung Oded Danial KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANAWali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Wakil Wali Kota Bandung Oded Danial
Penulis Latief
|
EditorLatief
KOMPAS.com - Seperti manusia, sebuah kota juga punya usia dan suatu saat menjadi tua, lalu habis dimakan umur. Wajah kota tak lagi sama seperti zaman ketika ia lahir.

"Di saat itulah banyak muncul bangunan-bangunan tua dan masyarakatnya bingung mau diapakan. Yang biasanya gampang membongkar itu hanya orang-orang yang cuma berpikiran ekonomis. Padahal, kalau mau sedikit kreatif, tak perlu membongkarnya," ujar Walikota Bandung, Ridwan Kamil, usai meresmikan Cagar Budaya dan Memorabilia Bank Indonesia di Bandung, Senin (26/5/2015).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Walikota yang lebih akrab disapa Kang Emil itu mengaku selalu iri dengan orang-orang tua di Bandung yang pernah menikmati "Paris van Java" yang selalu sejuk dan berkabut di kala pagi hari, senantiasa nyaman lantaran tidak semrawut dan macet. Tetapi, generasi masa kini hanya melihat Bandung sebagai kota metropolis.

"Dulu kota ini didesain untuk 300 ribu penduduk, sekarang sudah didiami sekitar 2,5 juta jiwa. Jadi, sudah tak sesuai zaman dan kebutuhannya sehingga Bandung harus mengikuti perubahan itu," kata Emil.

Namun, mengikuti zaman bukan berarti meruntuhkan bangunan-bangunan tua bersejarah, apalagi jika berpotensi sebagai cagar budaya (heritage). Emil mengaku marah dengan cara-cara orang, terutama pengusaha, yang sempit dalam memperlakukan nilai sejarah sebuah bangunan.

"Di Bandung modusnya sama, bangunan-bangunan tua itu ditutup pakai seng, lalu dihancurkan pelan-pelan. Ada lebih dari 600 bangunan tua, tapi yang masuk dalam perlindungan Perda itu hanya 66 bangunan," kata Emil.

"Karena itu, saya bikin aturan, kalau mau membongkar bangunan tua harus dengan izin. Kalau mau membongkar harus bisa beri alasan, jangan asal bongkar karena dianggap tak bernilai apa-apa," tambahnya.

KOMPAS.com/Putra Prima Perdana Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, meresmikan alih fungsi Gedung eks De Javasche Bank di Jalan Braga, Kota Bandung yang sebelumnya dipakai sebagai Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah VI (Jawa Barat & Banten) menjadi museum dan bangunan cagar budaya, Senin (26/5/2014).
Hukum alam

Umumnya "masterplan" tata kota di seluruh Indonesia sangat tidak ideal untuk melindungi kawasan dan bangunan-bangunan bersejarah masa lalu. Pascaperang kemerdekaan, hampir seluruh kota di Indonesia tak punya visi untuk menjadikan bangunan-bangunan era kolonial sebagai aset kota, termasuk Bandung.

"Zaman orde baru ekonomi menjadi lokomotif sehingga tak ada ruang untuk memetakan dan menjaga bangunan-bangunan bersejarah itu. Tapi itu belum terlambat, asalkan mau," ujar Emil.

Khusus untuk Bandung, lanjut Emil, ia akan membagi kota sesuai beban masing-masing. Untuk hiburan, wisata, hingga pemerintahan akan dipusatkan di kota lama di beberapa kecamatan, seperti Sumur Bandung, Lengkong, Bandung Wetan, dan Astana Anyar. Adapun ia berencana memindahkan pusat pemerintahan kota ke Gedebage.

www.shutterstock.com Umumnya

"Pembangunan di Bandung utara sudah dikurangi, sementara di Bandung tengah mulai dibatasi karena di sini banyak peninggalan arsitektur bergaya art deco. Kawasan ini yang akan dijadikan Bandung Heritage" kata Emil.

"Saya sudah sering disomasi, ada 8 somasi lantaran saya dianggap menghambat izin. Tetapi, memang seperti itulah, sudah hukum alam kalau kota ini tidak beres-beres jika tanpa kolaborasi," tambahnya. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.