Kantor Bank Indonesia Bandung Resmi Jadi Cagar Budaya - Kompas.com

Kantor Bank Indonesia Bandung Resmi Jadi Cagar Budaya

Kompas.com - 26/05/2014, 14:40 WIB
M. Latief/Kompas.com Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Bandung jadi cagar budaya.
BANDUNG, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) meresmikan gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI (Jawa Barat dan Banten) sebagai Cagar Budaya dan Memorabilia Bank Indonesia, Senin (26/5/2014).

Perubahan status heritage pada gedung eks Javasche Bank itu dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung No.19 lampiran No.18 tanggal 7 Agustus 2009.

"Memang, ada semacam public drive dari Walikota Bandung untuk menjadikan bangunan-bangunan bersejarah sebagai cagar budaya. Untuk itulah kami bersemangat, apalagi nantinya gedung ini bukan lagi sekadar warisan, tapi juga museum. Saat ini dengan koleksi yang ada, masih kami sebut semi museum," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI, Dian Ediana Rae, sebelum meresmikan Cagar Budaya dan Memorabilia Bank Indonesia di kantornya.

Dian menjelaskan, mulai persiapan hingga diresmikan, pihak BI melakukan renovasi dan pengumpulan koleksi selama 4 bulan sejak Februari 2013 lalu. Meskipun belum merasa puas, menurut dia, sejauh ini sudah 100 persen proses menjadikan gedung tersebut sebagai cagar budaya khas Kota Bandung.

Berlokasi di Jl Braga, gedung Cagar Budaya dan Memorabilia Bank Indonesia awalnya merupakan kantor cabang De Javasche Bank (DJB) ke-15. Gedung tersebut dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai tindakan antisipasi meluasnya dampak Perang Boer (1899-1902) di Afrika Selatan.

Perancangnya adalah biro arsitek Hulswit, Fermont dan Edward Cuypers. Pembangunanya berlangsung tiga tahun sejak 1915 hingga 1918. "Karena itu, kami jadikan gedung tetap utuh secara fisik dan bisa dimanfaatkan sebagai memorabilia yang menampilkan beragam sejarah mengenai sejarah BI dan koleksi-koleksi berbentuk panel informasi, numismatik, serta non-numismatik, mulai uang kuno hingga alat pencetak," ujar Dian.

Hanya, kehadiran museum ini belum seutuhnya dibuka untuk umum, mengingat 50 persen luasan gedung ini masih digunakan untuk aktivitas karyawan BI. Dian mengatakan, nantinya cagar budaya ini benar-benar sebagai destinasi wisata sejarah yang bisa dinikmati umum.

"Untuk sementara harus buat janji dulu, tidak bisa dengan kunjungan langsung. Beberapa turis dari Belanda dan Jepang sudah lebih dulu bikin janji untuk minta melakukan kunjungan," katanya.


PenulisLatief
EditorHilda B Alexander

Terkini Lainnya


Close Ads X