Menebak Nasib Bisnis Properti Pasca Kudeta Militer Thailand

Kompas.com - 24/05/2014, 12:26 WIB
Tentara Thailand berjaga di salah satu sudut kota Bangkok, setelah militer mengumumkan kudetanya pada Kamis (22/5/2014). MANAN VATSYAYANA / AFPTentara Thailand berjaga di salah satu sudut kota Bangkok, setelah militer mengumumkan kudetanya pada Kamis (22/5/2014).
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com - Pergolakan politik di Thailand yang telah berlangsung selama delapan tahun, memaksa militer tampil memegang kekuasaan. Bagaimana kemudian reaksi pasar properti Negeri Gajah Putih terhadap perubahan tersebut?

Yang pasti, perekonomian Thailand punya sejarah panjang dan kebal terhadap krisis atau kudeta apa pun. Militer yang telah melancarkan setidaknya 11 kali kudeta sejak akhir monarki absolut pada 1932, tak mampu membuat ekonomi Thailand goyah. Pertumbuhan ekonomi negeri ini justru memperlihatkan tren positif sebesar rerata 5 persen per tahun sepanjang 1999-2007.

Hanya belakangan ini saja pergolakan politik membuat perekenomian melambat yakni hanya 2,9 persen pada 2013 lalu. Penurunan tajam ini jauh dari pencapaian product domestic brutto (PDB) 2012 sebesar 6,5 persen.

Meski anjlok, namun menurut Bank of Thailand (BOT), pertumbuhan ekonomi tersebut mendorong indeks harga rumah mengalami kenaikan sebesar 5,71 persen (3,74 persen setelah disesuaikan dengan inflasi) selama kuartal I 2014. Sementara pada kuartal-kuartal sebelumnya tercatat tumbuh 5,61 persen (kuartal IV 2013), 5,34 persen (kuartal 3 2013), dan 6,17 persen (kuartal II 2013).

Kenaikan harga juga terjadi pada kondominium yang meningkat 3,76 persen (1,82 persen setelah inflasi), dan rumah bandar (town house) 6,17 persen. Demikian halnya dengan harga lahan yang melonjak 7,04 persen.

Pertumbuhan harga tersebut dipicu oleh permintaan yang melonjak. Data Departemen Pertanahan, memperlihatkan nilai transaksi tanah dan bangunan meningkat 16,5 persen pada 2013 dengan total nilai Rp 351,3 triliun.

Wilayah tengah berkontribusi sekitar 62 persen dari seluruh transaksi, diikuti wilayah timur (13 persen), dan utara (9 persen). Jumlah kredit properti pun meroket 14,4 persen sepanjang 2013 dengan capaian nilai Rp 714 triliun.

Menariknya, perizinan bangunan rumah juga meningkat 12,8 persen menjadi 84.032 unit. Sementara pasokan hunian baru yang masuk pasar sepanjang 2013 tercatat melesat 25,1 persen menjadi 102.200 unit. Termasuk hunian baru di Kota Bangkok yang mencakup apartemen, dan kondominium. Rumah tapak juga meningkat 5,6 persen menjadi 131.954 unit.

Meski bergeming, sektor properti Thailand harus tetap waspada. Pasalnya, pertumbuhan diprediksi masih berada pada angka 2,5 persen tahun ini. Bukan angka yang menarik untuk investasi. Terlebih LPN Development, pengembang kondominium terbesar di Thailand telah memberikan isyarat untuk memangkan 50 persen proyek baru pada tahun ini.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X