"Bio-concrete", Mengubah Setiap Tetes Hujan Menjadi Air Minum

Kompas.com - 12/05/2014, 12:48 WIB
Tampilan Rainhouse System yang ada di Milan bulan lalu. Menurut Direktur Kreatif IVANKA Katalin Ivanka, sistem penyaring air hujan ini bisa diintegrasikan di semua bangunan. IVANKATampilan Rainhouse System yang ada di Milan bulan lalu. Menurut Direktur Kreatif IVANKA Katalin Ivanka, sistem penyaring air hujan ini bisa diintegrasikan di semua bangunan.
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief

KOMPAS.com - Perusahaan beton asal Hungaria, IVANKA, mengembangkan beton istimewa yang bisa membantu proses penyaringan air hujan menjadi air minum. Pada pelaksanaan Milan Design Week bulan lalu, perusahaan tersebut memamerkan "The Water of Life Project" dalam Ivanka Rainhouse di Temporary Museum for New Design, Taman SuperStudio Piu, Milan.

Bangunan temporer gubahan IVANKA itu akan mengumpulkan air hujan, kemudian mengubahnya menjadi air minum berkualitas terbaik lewat sistem "bio-concrete".

Memang, penggunaan kembali air hujan sebenarnya bukan hal baru. Di beberapa gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan, air hujan sudah mulai ditampung dan digunakan kembali. Namun, penggunaannya baru sebatas untuk mengguyur toilet dan menyiram tanaman. Kini, IVANKA mencoba lebih jauh lagi dengan meningkatkan kualitas air hujan dan membuatnya layak dikonsumsi.

http://www.fastcoexist.com Ivanka memamerkan

Direktur Kreatif IVANKA Katalin Ivanka menjelaskan, bahwa menggunakan air hujan untuk menyuplai persediaan air minum bisa jadi merupakan "missing link" bagi rumah ramah lingkungan.

"Tadah bio-concrete punya peran kunci dalam prosesnya," terang Ivanka.

"Unsur tersebut bertindak seperti formasi alami batu kapur dan menetapkan pH pada jangkauan idealnya. Kemudian, unsur tersebut secara alami membuat air hujan lebih lembut," tambahnya.

Ivanka juga menuturkan, proses ini tidak menggunakan bahan kimia tambahan. Lebih jelasnya, tutur dia, air hujan ditampung dan kemudian segera disaring lewat beberapa penyaring. Pertama, air hujan akan melewati "bio-concrete" di bagian atap. Kemudian, air akan mengalir melewati pipa nirkarat (stainless steel) yang sekaligus berfungsi untuk menyaring air. Setelah itu, penghuni rumah bisa menampung dan menggunakan air sesuai kebutuhan.

Teknologi itu, menurut Ivanka, tidak hanya bisa digunakan pada bangunan baru. Bangunan yang sudah dibangun pun bisa menggunakan sistem tersebut. Rumah tinggal pribadi, hingga gedung pencakar langit dapat memanfaatkan teknologinya.

"Ketersediaan air bersih di Bumi semakin berkurang, namun kita semakin membutuhkannya. Tidak seperti minyak, air tidak bisa digantikan," ujar Ivanka.

Dia mengatakan, perusahaannya sudah berencana mematenkan lisensi teknologinya di seluruh dunia dan berusaha membuat teknologi tersebut tersedia secara open source. Dalam kondisi normal dan ideal, air hujan seharusnya bisa diserap tanah dan kemudian mengendap di bawah tanah.

Di Jakarta, air hujan yang tidak terserap secara maksimal sudah terbukti mampu menyebabkan banjir. Karena itu, Fastcoexist.com menganjurkan, sistem semacam ini bisa menjadi jawaban menarik bagi negara-negara bercurah hujan tinggi, namun kekurangan air bersih.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X