Kompas.com - 06/05/2014, 16:24 WIB
Ilustrasi shutterstockIlustrasi
|
EditorHilda B Alexander
SAMARINDA, KOMPAS.com - Perubahan orientasi ekspansi bisnis pengembang ke daerah di luar kawasan Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, membuat kota-kota tertentu menjadi incaran dan mengalami pertumbuhan signifikan.

Samarinda, Kalimantan Timur, termasuk di antara sekian banyak kota di daerah yang menjadi wilayah garapan perluasan bisnis para pengembang Nasional. Statusnya sebagai ibukota provinsi, menjadikan kota ini punya posisi penting dan daya tarik tersendiri. Terlebih dalam perkembangan konstelasi pasar properti saat ini, saat kelas menengah tumbuh pesat, daya beli meningkat dan transformasi gaya hidup di semua lini.

Senior Associate Director and Head of Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia, Arief N Rahardjo, mengutarakan potensi dan gairah pasar properti Samarinda kepada Kompas.com, Selasa (6/5/2014).

Menurutnya, sudah sejak lama Samarinda diincar pengembang besar, salah satunya adalah Agung Podomoro Land. Melalui PT Karunia Abadi Sejahtera, mereka membangun perumahan menengah atas bertajuk Bukit Mediterania Samarinda.

Proyek ini berlokasi di Jl MT Haryono, Rawa Indah, Kalimantan Timur dengan total luas lahan 38 hektar. Perumahan ini terdiri dari 5 kluster yang dikembangkan sejak 15 Oktober 2005.

"Harganya tak bisa dibilang murah sekitar Rp 800 juta hingga Rp 2 miliar per unit, malah setara dengan harga rumah di kompleks-kompleks perumahan berkonsep klaster di Jadebotabek. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar Samarinda punya potensi besar untuk lebih tumbuh pesat jika digarap lebih maksimal," ujar Arief.

Ceruk pasar besar dengan daya beli kuat sebagai dampak logis dari beroperasinya perusahaan-perusahaan tambang nasional dan multinasional, kata Arief, juga ikut mendorong pesatnya pembangunan properti di kota ini.

"Perusahaan tersebut merupakan demand generator (pemantik permintaan) properti yang sudah pasti "menularkan" daya beli tinggi. Kehadiran mereka yang membuat kebutuhan properti, khususnya hunian dan pusat belanja di Samarinda meningkat dari tahun ke tahun. Namun, sayangnya, pasokan baru sangat terbatas jumlahnya dan sangat tidak seimbang. Ini kesempatan buat pengembang untuk membangun dua jenis properti tersebut," imbuh Arief.

Dari jumlah populasi sebanyak 785.900 (data BPS 2013) dan daya beli, pasar Samarinda sangat mendukung untuk dikembangkannya properti hunian dan juga pusat belanja. Kuatnya daya beli masyarakat Samarinda, diakui Associate Director Ciputra Group, Johan Giam. Menurutnya, proyek CitraLand City Samarinda merupakan salah satu kontributor terbesar marketing sales secara grup.

"Saat ini saja tengah dikembangkan tahap II seluas 60 hektar. Tahap I seluas 33 hektar hanya tinggal beberapa unit saja yang belum terjual," ujar Johan.

Belum lagi CitraLand City tuntas terbangun, Ciputra Group akan melansir proyek baru dengan konsep township development bertajuk CitraGrand Senyiur City pada 8 Mei 2014. Untuk merealisasikan proyek seluas total 400 hektar tersebut, Ciputra menggandeng mitra lokal Kelompok Usaha Senyiur dan PT Sumber Mas.

Selain Agung Podomoro Land dan Ciputra Group, pemain kakap lainnya yang mengincar Samarinda adalah Summarecon Agung Group, dan Sinarmas Land Group.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X