Segitiga Emas Jakarta Tetap Primadona - Kompas.com

Segitiga Emas Jakarta Tetap Primadona

Kompas.com - 23/04/2014, 06:41 WIB
www.shutterstock.com Ilustrasi:
JAKARTA, KOMPAS.com - Kawasan segitiga emas atau golden triangle Jakarta yang mencakup koridor Sudirman, Kuningan, dan Thamrin masih sangat menarik dan tetap menjadi primadona, meskipun bermunculan kandidat-kandidat pusat komersial baru.

Pamor dan reputasi kawasan segitiga emas dengan pusat-pusat komersial dan bisnis terpadunya belum tergoyahkan hingga saat ini. Bahkan semakin melesat. Ditandai dengan pertumbuhan kinerja positif subsektor perkantoran dari berbagai indikator.

Di antaranya tingkat kekosongan ruang menurun menjadi 5,6 persen hingga kuartal I 2014, harga sewa mengalami perubahan 2,5 persen dan akan terus menunjukkan tren meningkat menjadi rerata 27,28 dollar AS atau Rp 311.250 per meter persegi per bulan dan Rp 45,4 juta per meter persegi untuk ruang kantor strata atau meningkat 4,3 persen dari kuartal sebelumnya.

Kenaikan harga akan terus berlanjut karena tidak ada pasokan baru pada tiga bulan pertama tahun ini dan masih aktifnya transaksi jual dan sewa.

Menurut Senior Associate Director and Head of Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia, Arief N Rahardjo, tren positif aktivitas transaksi dan permintaan sewa terjadi karena ekspansi bisnis dan juga relokasi penyewa. Hanya, karena terbatasnya pasok yang masuk kuartal I 2014, menyebabkan para penyewa hanya mendapatkan ruang kantor dengan luas di bawah 300 meter persegi.

"Sementara permintaan dan transaksi ruang perkantoran dalam ukuran besar tidak dapat terpenuhi karena ketersediaan ruang yang sangat terbatas di sebagian besar perkantoran eksisting akibat tigkat hunian sangat tinggi yakni 94,4 persen," tutur Arief kepada Kompas.com, Selasa (22/4/2014).

Positifnya kinerja perkantoran di kawasan golden triangle tersebut, jelas membuat para pengembang kemudian terpincut berlomba membangun properti sejenis. Tak hanya pengembang dengan bisnis inti properti macam Lippo Karawaci Group, Sinarmas Land Group, dan Ciputra Group, melainkan juga pengembang yang sebelumnya berbasis non-properti.

Sebut saja Tiara Marga Trakindo yang berbasis manufaktur dan peralatan berat. Melalui PT Triyasa Propertindo, mereka membangun perkantoran Gran Rubina di dalam kawasan pengembangan Rasuna Epicentrum.

Menara I Gran Rubina dijadwalkan beroperasi pada semester kedua 2014. Demikian halnya dengan MSIG Tower, Lippo Kuningan, The Convergence Indonesiadan Satrio Square. Sehingga seluruh gedung-gedung perkantoran tersebut berkontribusi terhadap jumlah total pasokan baru menjadi 182.000 meter persegi sepanjang tahun ini.

"Jumlah total luas perkantoran di kawasan segitiga emas Jakarta jauh lebih banyak ketimbang kawasan komersial lainnya. Pada 2010 saja, perkantoran di CBD Jakarta mendominasi komposisi pasar sebanyak 62 persen, sementara non-CBD 38 persen. Angka yang sama terjadi pada 2013. Sementara hingga 2016 mendatang komposisi sedikit berubah, 61 persen untuk CBD dan 39 persen untuknon-CBD," imbuh Arief.


EditorHilda B Alexander

Close Ads X