Kompas.com - 14/03/2014, 10:35 WIB
Anak-anak di Dusun  Sijeuk, Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, tetap bersemangat belajar meskipun dengan penerangan yang minim, Minggu (2/12/2012). Dusun Sijeuk merupakan salah satu dusun terpencil di Kabupaten Aceh Timur yang belum mendapatkan sambungan listrik. Lentera minyak menjadi satu-satunya alat penerangan.

KOMPAS/MOHAMAD BURHANUDINAnak-anak di Dusun Sijeuk, Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, tetap bersemangat belajar meskipun dengan penerangan yang minim, Minggu (2/12/2012). Dusun Sijeuk merupakan salah satu dusun terpencil di Kabupaten Aceh Timur yang belum mendapatkan sambungan listrik. Lentera minyak menjadi satu-satunya alat penerangan.
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Maritje Hutapea, mengungkapkan bahwa rasio elektrifikasi di Indonesia baru sekitar 78 persen. Artinya, saat ini 22 persen rumah tangga di seluruh Indonesia belum mendapatkan akses listrik. Lantas, mengapa di luar Pulau Jawa tidak dibangun pembangkit besar?

"Di Pulau Jawa banyak pembangkit besar, tapi di luar Pulau Jawa kasihan sekali. Rasio elektrifikasi kita itu 78 persen. Artinya, baru 78 persen rumah tangga merasakan ini. Masih ada 22 persen rumah tangga yang belum merasakan. Mayoritas (dari 22 rumah tangga) ada di luar Pulau Jawa," ujar Maritje kepada Kompas.com seusai pengumuman pemenang Schneider "Go Green in the City 2014" di Jakarta, Kamis (13/3/2014).

Maritje mengungkapkan kenyataan di lapangan bahwa ada perbedaan kebutuhan antara penduduk di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa. Angka tersebut harus dilihat dengan lebih bijak.

Maritje mengatakan, biaya membangun jaringan listrik di luar Pulau Jawa lebih mahal dan tidak tepat pemanfaatannya. Karakteristik masyarakat di luar Pulau Jawa terpencar. Membangun jaringan akan membutuhkan biaya besar, sementara masyarakatnya pun belum memiliki gaya hidup seperti penduduk kota-kota di Pulau Jawa.

"Kalau di luar Pulau Jawa dibangun jaringan akan lebih mahal. Di sana masyarakat terpencar-pencar, tidak seperti di Jakarta. Pembangkit kan besar, sementara kebutuhan mereka belum sampai di situ," ujarnya.

"Kami bangun mikrohidro, PLTS (pembangkit listrik tenaga surya), ada angin. Seperti tadi, ada satu yang dari ITS, dia mulai memikirkan penggunaan PLTS di kota. Dia akan taruh di atap bangunan bertingkat. Itu impian kita. Kalau PLTS sekarang di pedesaan, nanti juga harus masuk kota," tandas Maritje.

Sebagai informasi, hari ini baru saja diadakan penganugerahan "Go Green in the City 2014" oleh Schneider Electric, perusahaan spesialis global di bidang manajemen energi. Schneider menganugerahi penghargaan kepada dua pemenang, yaitu para mahasiswa sarjana dan pascasarjana dari Universitas Kristen Satya Wacana dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mahasiswa ITS mengajukan proposal berjudul "Rood Energy Harvesting".Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.