Pengembang Andalkan Dana Perusahaan Ketimbang Kredit Bank

Kompas.com - 14/02/2014, 16:42 WIB
Sebagian besar pengembang memanfaatkan dana internal perusahaan untuk membangun proyek propertinya. shutterstockSebagian besar pengembang memanfaatkan dana internal perusahaan untuk membangun proyek propertinya.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Dana internal perusahaan tetap menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial. Sementara kredit konstruksi dan uang konsumen, menempati porsi lebih sedikit.

Hasil survei terbaru Bank Indonesia memperlihatkan kecenderungan tersebut, bahwa para pengembang masih mengandalkan internal cahsflow sebagai sumber pembiayaan selain pinjaman perbankan, dan uang konsumen.

Menurut survei yang dilansir pada Rabu (12/2/2014) tersebut, sebagian besar pengembang mendanai proyek propertinya dengan uang sendiri (57,79 persen). Berdasarkan komposisi, dana internal tersebut mayoritas berasal dari laba ditahan (41,11%), modal disetor (38,17%), lainnya (15,56%), dan patungan modal atau joint venture (5,16%).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sedangkan sumber pembiayaan lainnya yakni dana atau pinjaman perbankan menempati porsi sebesar 28,57%, uang muka dan cicilan tunai serta tunai bertahap yang dibayar konsumen sekitar 10,69%. Selain itu, pengembang juga memanfaatkan dana dari lembaga keuangan non-bank (LKNB) sebanyak 1,33% dan sumber lain-lain 0,84%.

Salah satu pengembang perumahan segmen menengah yakni PT Rolas Sapta Mandiri, bahkan memodali proyek perdananya seluruhnya dari dana perusahaan.

"Barulah untuk proyek berikutnya yakni Griya Bukit Mas, dan Puri Kania, kami memberanikan diri meminjam dana perbankan, dalam hal ini Bank Tabungan Negara (BTN). Itu pun komposisinya tak terlalu besar, sekitar 20-30 persen. Sisanya, kami masih menggunakan dana sendiri dan dana konsumen," ungkap Presiden Direktur Rolas Sapta Mandiri, Windiarti Soebadio Choesin.

Demikian halnya dengan ISPI Group yang memanfaatkan fulus dari perbankan bila diperlukan. Misalnya, bila ada keperluan mendesak terkait modal kerja, mereka baru memanfaatkan pinjaman bank yang utamanya berasal dari BTN.

"Jika masih bisa didanai oleh kas perusahaan dan pembayaran konsumen, kami akan menangguhkan penggunaan pinjaman perbankan," ujar Komisaris Utama ISPI Group, Preadi Ekarto.




Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.