Kompas.com - 02/02/2014, 09:20 WIB
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua DPP Asosiasi Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Eddy Ganefo mengaku bahwa selama ini pihaknya memonitor langsung anggota-anggotanya lewat laporan dari pengurus DPD dan calon konsumen. Namun, ia mengaku, Uniknya, keluhan yang diutarakan oleh para calon konsumen biasanya berbentuk lisan, lantaran para calon konsumen sungkan atau merasa keluhannya termasuh remeh.

"Biasanya kita menerima laporan atau pengaduan dari DPD atau dari calon konsumen," ujar Eddy di Jakarta, Jumat (31/1/2014).

Tanggapan Eddy tersebut untuk menjawab kekhawatiran Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghada. Sebelumnya, Ali sempat mengutarakan bahwa asosiasi pengembang, bahkan pemerintah lewat Kementerian Perumahan Rakyat tidak berdaya menanggapi "pengembang nakal".

Menurut Eddy, berdasarkan pengaduan tersebut, DPP APERSI bisa mengeluarkan perusahaan anggota APERSI yang terbukti melakukan pelanggaran dari keanggotaan.

"Namun, tentu sanksi tersebut tidak bisa diputuskan dengan gegabah," katanya.

Tolok ukur pelanggaran, menurut Eddy, tidak hanya mereka yang melanggar AD/ART APERSI, namun juga ketentuan lain. Misalnya, Eddy melanjutkan, Peraturan Pemerintah. Para pengembang yang ingkar janji ketika memasarkan produknya pun termasuk dalam kategori melanggar. Dengan kata lain, jika pengembang memberikan iklan palsu di brosur, mereka pun sudah dianggap melanggar.

"Tergantung yang mereka (pengembang) lakukan. Bisa saja dipanggil dahulu dan diberi pengertian atau diberi peringatan. Atau bisa juga dikeluarkan dari keanggotaan," ujar Eddy.

"Pelanggaran ringan juga bisa diberi SP 1 (Surat Peringatan) kalau tidak ditindaklanjuti pengembang," tambahnya.

Eddy memberikan contoh, jika ada calon konsumen yang melaporkan keterlambatan pembangunan, APERSI akan mengecek kebenaran dan penyebabnya.

"Misalnya keterlambatan pembangunan, ini akan kita klarifikasi apa penyebabnya. Bisa saja bukan kesalahan mereka tapi karena faktor luar," imbuh Eddy.

Yang pasti, lanjut Eddy, pihaknya membuka kesempatan konsumen melakukan pengaduan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.