Soal Pertumbuhan Infrastruktur, Indonesia Kalah Jauh dari Malaysia

Kompas.com - 21/01/2014, 15:51 WIB
Ilustrasi. www.shutterstock.comIlustrasi.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com — Ferry Hendriyanto, Direktur Operasional I PT Wika Beton, mengatakan, jangankan di dunia, untuk kawasan Asia Tenggara saja, Indonesia masih kalah jauh ketimbang Malaysia. Pertumbuhan infrastruktur Indonesia masih menjadi tantangan ke depan.

"Pertumbuhan infrastruktur Indonesia masih kalah di Asia Tenggara. Ini tantangan besar. Terlebih lagi, program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk kurun 2011-2025 belum lancar karena masih menghadapi berbagai kendala. Investasi yang direncanakan," ujar Ferry kepada Kompas.com, Selasa (21/1/2014).

Oleh karena itu, Wika Beton melakukan berbagai langkah strategis guna tetap mempertahankan pangsa pasar 43 persen sekaligus memperluas cakupan bisnisnya pada tahun 2014.

"Kami harus melakukan terobosan dengan membangun pabrik berkapasitas besar seluas 80 hektar di Bakauheni, Lampung, yang terintegrasi dengan pelabuhan sehingga memudahkan distribusi dan delivery produk menggunakan kapal. Selain dapat menekan ongkos transportasi sekaligus efisiensi, kami juga tak ingin pemain asing menguasai pasar dalam negeri," ujar Ferry.

Jadi, lanjut Ferry, pengembangan Wika Beton ke depan adalah menciptakan produk yang sarat teknologi tinggi, pabrik yang dilengkapi dermaga sendiri, dan stok material yang bisa diolah sendiri. Dengan demikian, pihaknya tidak tergantung pada transportasi dan alam.

Selain bangun pabrik baru, Wika Beton juga melakukan inovasi produk baru yang sejauh ini hanya diproduksi di Amerika Serikat dan Jepang, yakni PC Piles Cylinder dengan diameter 2.000 mm dan panjang 60 meter.

"PC Piles Cylinder sebesar itu akan kami produksi pada Agustus nanti di pabrik baru di Lampung. Wika Beton adalah perusahaan Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang memproduksi PC Piles Cylinder," ungkap Ferry.

Selain produk baru, inovasi lainnya yang akan mereka kembangkan adalah sistem baru dalam pemasangan tiang pancang yang lebih ramah lingkungan.

"Teknologinya didatangkan langsung dari Jepang. Kami yang akan mengembangkannya lebih luas di sini," ucap Ferry.

Dengan mengadopsi dan mengembangkan inovasi serta teknologi konstruksi, kata Ferry, program MP3EI seharusnya bisa terlaksana dengan lancar. Buktinya, Tol Sarangan-Benoa di Bali bisa dibangun hanya dalam waktu 13 bulan. Tol Sarangan-Benoa merupakan salah satu portofolio Wika Beton.

"Untuk memenuhi kebutuhan sektor transportasi, pembangkit listrik, infrastruktur dermaga, jalan tol, properti, kanal banjir, jembatan, sodetan sungai, tentu saja butuh beton pra-cetak yang bisa secara cepat dipasang. Bayangkan kalau teknologi beton pra-cetak tidak mengalami perkembangan, pembangunan Indonesia akan semakin tertinggal," imbuh Ferry.

Selain Wika Beton, saat ini di Indonesia ada 19 produsen beton precast. Delapan di antaranya merupakan produsen besar, seperti Adhi Karya dan Jaya Konstruksi. Namun sayangnya, dari sekian banyak produsen tersebut, hanya beberapa dari mereka yang aktif melakukan inovasi.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X