Kompas.com - 20/01/2014, 17:32 WIB
Penulis Tabita Diela
|
Editor M Latief

KOMPAS.com - Jangan buang material sisa pembangunan rumah atau sisa-sisa reruntuhan bangunan yang seringkali dibiarkan menumpuk begitu saja. Dengan sedikit kreatifitas, material-material tersebut bisa menjadi bahan pembuat furnitur.

Hal tersebut sudah dibuktikan oleh Tsuyoshi Hayashi. Hayashi menggunakan genteng-genteng bekas sebagai bahan pembuat bangku.

Hayashi mengumpulkan genteng-genteng tradisional kawara dari sebuah pabrik di Takahama, Jepang. Genteng tersebut dibuat dari tanah liat dan bentuknya bergelombang. Sekilas, genteng yang digunakan oleh Hayashi tidak jauh berbeda dengan genteng di Indonesia. 

Seperti dikutip dalam Dezeen, lima persen kawara rusak dalam proses produksi. Maka itu, ada lebih dari 65.000 kawara dikirim ke tempat pembuangan sampah setiap tahunnya.

Bagi Hayashi, ini memang peluang menarik. Dia memotong genteng-genteng yang rusak dan menempatkannya pada rangka kayu. Tanpa perlu direkatkan dengan lem atau paku, genteng kawara tersebut bisa pas menempati rangka yang dibuat Hayashi.

"Bentuk gelombang lembut mengundang orang-orang untuk duduk dan (bangku) ini membuat postur orang lurus secara ergonomis," ujar Hayashi kepada Dezeen.

Sang desainer pun menambahkan bahwa proses tradisional pembuatan kawara membuatnya tahan cuaca dan kuat, jauh lebih kuat dari genteng buatan Eropa. Setiap genteng dibakar dalam api bersuhu lebih dari 1.200 derajat Celcius, sementara genteng Eropa hanya dibakar dalam suhu sekitar 800 derajat Celcius. Dengan kata lain, kursi-kursi ini bisa digunakan di luar ruangan.

Kursi-kursi karya Hayashi pun bisa diletakkan berjejer hingga membentuk bangku panjang. Menurut Hayashi, masing-masing bangku pun bisa menopang pengguna dengan berat hingga 120kg.

Tahun lalu, Hayashi lulus dari Design Academy Eindhovem dan membuka studio pribadinya Desember lalu. Tidak hanya membuat bangku-bangku dari genteng, Hayashi punya tujuan yang lebih besar untuk mendorong penduduk dunia menggunakan bahan lokal dan meminimalisir produksi sampah.

"Harapan terbesar saya adalah berkolaborasi dengan pabrik di tiap negara dan menggunakan prinsip desain saya untuk mengajukan nilai unik dan lokalitas sampah material," tandas Hayashi.

Anda tertarik mencoba?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.