Kompas.com - 11/12/2013, 11:13 WIB
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Tidak seperti aset-aset lainnya, sektor properti realestat di Asia tahun
ini nyaris "tak tergoyahkan", khususnya menghadapi persoalan stimulus AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya sebagian besar dana investasi milik negara dan modal institusional yang diarahkan ke pasar Asia, serta volume modal Asia dalam jumlah besar dan diekspor dari China, Singapura, Korea Selatan dalam bentuk aset realestat di seluruh wilayah Asia.

Demikian laporan studi sektor realestat Emerging Trends in Real Estate Asia Pasifik 2014
yang diterbitkan bersama-sama oleh Urban Land Institute (ULI) dan PwC. Berdasarkan kekuatan dana investasi itulah, menurut riset tersebut, dasar pertumbuhan sektor realestat tetap menguat pada 2014 mendatang, terutama seiring persaingan ketat di pasar utama yang berhasil meningkatkan popularitas sektor properti dan pasar sekunder untuk investasi.

"Meskipun pasar yang menguat di Asia mengakibatkan kenaikan harga dan hasil lebih rendah untuk produk inti, investor bereaksi dengan tidak menarik investasinya dari sektor realestat di Asia. Mereka malah menemukan cara baru untuk membuat harga bisa berhasil ditekan, termasuk fokus pada jenis properti khusus seperti rumah perawatan manula atau logistik, serta mencari peluang lainnya di pasar emerging," ujar Ketua ULI Asia Utara Raymond Chow dalam paparan riset yang dikirimkan kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (10/12/2013).

Pemimpin Pajak Real Estate Asia Pacific di PwC Hong Kong, K K So, mengatakan bahwa beberapa pemain besar properti yang telah membuka kantor mereka di Asia dalam rangka mendapatkan akses terhadap penawaran langsung, memilih untuk melakukan investasi bersama di lokasi pembangunan. Hal ini mereka lakukan demi mengamankan aset yang, bisa jadi, tidak tersedia atau malah terlalu mahal.

Catatan Kompas.com, beberapa konsultan properti memang telah mencatat, sektor perkantoran Jakarta memang mencapai puncaknya pada tiga tahun terakhir. Meski demikian, bukan berarti tak terjadi penurunan sama sekali. Sektor perkantoran bahkan sempat melorot pada kuartal II 2013.

Hasil riset Colliers International Indonesia menunjukkan per Juli-September lalu, ruang perkantoran yang terserap hanya seluas 111.000 meter persegi. Padahal kuartal sebelumnya sebanyak 300.000-400.000 m2 ruang kantor yang terserap.

"Ini sesuatu yang berangkat dari praktik normal pada dana institusional yang didorong oleh kebutuhan. Kami juga melihat adanya kecenderungan investor memilih jendela investasi yang lebih terbuka," ujar So.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.