Kompas.com - 09/12/2013, 14:47 WIB
Pertamina Energy Tower. Skidmore, Owings and Merrill LPP (SOM)Pertamina Energy Tower.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia boleh berbangga saat PT Pertamina (Persero) memulai pembangunan kantor pusatnya setinggi 530 meter, Pertamina Energy Tower, pada Senin (9/12/2013), di kawasan superblok Rasuna Epicentrum, Jakarta.

Pasalnya, jika kelak pencakar langit yang masuk dalam kategori supertall ini rampung, maka Pertamina Energy Tower akan menempati posisi 9 tertinggi di dunia. Bersanding dengan penantang angkasa lainnya, yakni CTF Guangzhou di China dengan ketinggian yang sama yakni 530 meter, One World Trade Center Newy York, Amerika Serikat, setinggi 541 meter dan juga Goldin Finance 117 Tianjin China, 597 meter.

Namun, pembangunan pencakar langit tersebut dianggap bukan sekadar adu ketinggian, melainkan sebuah kebanggaan dan juga implementasi efisiensi di sektor perkantoran.

Menurut Managing Director Pandega Desain Weharima, arsitek sekaligus mitra lokal Smallwood, Reynolds, Stewart, Stewart and Associates Inc. (desainer Signature Tower Jakarta/STJ), Tiyok Prasetyoadi, konsep pembangunan vertikal, dapat mereduksi penggunaan lahan terbuka hijau.

"Konsep pembangunan pencakar langit merupakan kombinasi paripurna untuk kemajuan teknologi, modernitas, dan etos kerja manusia. Jadi, tidak sebatas merepresentasikan unjuk kekuatan, ketinggian dan prestis sekaligus reputasi, melainkan simbol budaya dan juga bagaimana dapat memudahkan manusia penggunanya," papar Tiyok kepada Kompas.com, Senin (9/12/2013).

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan mengatakan, menara kebanggaan milik Pertamina ini rencananya akan berfungsi sebagai kantor pusat Pertamina dan anak-anak usahanya dengan kapasitas 23.000 pekerja.

"Pembangunan gedung ini harus dapat menjadi jembatan Pertamina sebagai perusahaan energi terbesar di Asia Tenggara pada 2025. Pertamina harus menjadi ASEAN Energy Champion pada 2025, maka dari itu Pertamina butuh kegesitan dan efisiensi," imbuhnya.

Kehadiran Pertamina Energy Tower menjadi salah satu faktor pendukung yang dapat meningkatkan kinerja pekerja Pertamina.

Selain itu, Pertamina Energy Tower juga harus menjadi lambang energi, yaitu semua potensi energi terbarukan harus bisa dimanfaatkan gedung ini.

Sementara Executive Director Council on Tall Buildings and Urban Habitat, Antony Wood berpendapat secara teknis, demografis, dan politis,  Jakarta, potensial memiliki 1 hingga 3 supertall (gedung dengan ketinggian di atas 300 meter).

"Namun, sebelum membangun supertall, Jakarta seharusnya konsentrasi pada masalah mendasar yang sangat krusial yakni perbaikan dan penambahan insfrastruktur. Mengembangkan transportasi publik yang terintegrasi jauh lebih penting ketimbang pencakar langit," tandas Antony.

Jakarta sebagai salah satu metropolitan yang ingin diakui dunia, tertinggal 15 tahun dari Kuala Lumpur dan 10 tahun dari Bangkok dalam hal kemajuan transportasi publik. Jika kondisi infrastruktur seperti saat ini, lanjut Antony, kehadiran supertall menjadi mubazir. Keindahan arsitektural gedung tidak bisa dinikmati secara visual oleh publik, karena mereka mengalami kesulitan untuk mendatangi tempat ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.