"Penyelamatan" Candra Naya di Tengah Pesatnya Pembangunan

Kompas.com - 17/11/2013, 13:22 WIB
Managing Director Urban Development PT Modernland Realty Tbk. (perusahaan yang bekerjasama memasarkan Green Central City) Andy K. Natanael, General Manager Marketing PT Modernland Realty Tbk. Rossy, dan Marketing Manager PT Bumi Perkasa Permai Chris Tejasukmana, saat memasarkan apartemen Tower Cerberra kepada konsumen. Saat ini Tower Cerberra telah terjual 85% dari total 220 unit. 

Dok.ModernlandManaging Director Urban Development PT Modernland Realty Tbk. (perusahaan yang bekerjasama memasarkan Green Central City) Andy K. Natanael, General Manager Marketing PT Modernland Realty Tbk. Rossy, dan Marketing Manager PT Bumi Perkasa Permai Chris Tejasukmana, saat memasarkan apartemen Tower Cerberra kepada konsumen. Saat ini Tower Cerberra telah terjual 85% dari total 220 unit.
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com — Komitmen tinggi pengembang properti sangat diperlukan untuk ikut menyelamatkan situs-situs bersejarah di tengah pesatnya pembangunan kota dengan alasan modernisasi. Salah satu contoh saat ini adalah penyelamatan bangunan cagar budaya Candra Naya oleh PT Bumi Perkasa Permai.

Saat ini Gedung Candra Naya menyatu dengan superblok Green Central City di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Barat. Sebagai pengembang superblok tersebut, PT Bumi Perkasa Permai tetap mempertahankan keberadaan situs tersebut sebagai bagian dari "isi" superblok Green Central City. 

Marketing Manager PT Bumi Perkasa Permai Chris Tejasukmana mengungkapkan, bangunan berumur dua abad itu kini dijadikan ikon utama Green Central City sehingga kawasan ini akan menjadi salah satu landmark Jakarta Kota. Saat ini keberadaan Candra Naya telah dipayungi hukum UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

"Fisiknya memang superblok Green Central City, tapi spiritnya, jiwanya, masih Candra Naya," ujar Chris kepada Kompas.com di Jakarta, Minggu (17/11/2013).

Candra Naya merupakan bekas rumah Khouw Kim An atau dikenal dengan mayor Tionghoa (Majoor de Chineezen) pada 1910-1916 dan 1927-1942. Bangunan ini didirikan pada 1807 oleh Khouw Tian Sek yang merupakan seorang tuan tanah untuk menyambut kelahiran anaknya, Khouw Tjeng Tjoan, pada 1808.

"Kami ingin mempertahankan keselarasan antara gedung modern dengan cagar budaya sehingga memberikan nuansa yang unik dan tiada duanya di kawasan Jakarta Kota. Apalagi, salah satu daya tarik masyarakat tinggal di superblok ini karena dianggap sebagai lokasi yang memberikan kemakmuran karena dulu Candra Naya milik orang kaya," kata Chris.

Untuk tujuan tersebut, lanjut Chris, beberapa upaya dilakukan Bumi Perkasa Permai adalah membangun kembali bangunan teras samping yang sempat dibongkar pada waktu sebelumnya. Ini dilakukan untuk mempertahankan ciri khas bangunan khas Tionghoa yang masih utuh.

"Nah, kalau dibangun kembali bangunan sayap dan gazebonya, serta lingkungannya ditata dengan apik sebagai kawasan China Town, maka daya tarik Jakarta tidak akan kalah dengan kota-kota lainnya di dunia," ujar Chris.

Untuk mendukung upaya itu, berbagai kegiatan rutin pun digelar di Candra Naya. Terakhir, pada Juni 2013 lalu, Bumi Perkasa Permai menggelar acara Candra Naya Batavia Festival dalam rangka memperingati ulang tahun ke-486 Kota Jakarta. Acara ini digelar bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat cinta budaya, seperti Koko-Cici Jakarta, Asosiasi Peranakan Indonesia Tionghoa (Aspertina), Perempuan Perhimpunan Tionghoa Indonesia (Pinti), Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema Inti), Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI DKI), Perhimpunan Persahabatan Indonesia Tiongkok (PPIT), dan Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI).

"Rencananya tahun depan kami akan menggelar lagi berbagai kegiatan di Candra Naya agar bangunan ini tetap hidup," tambah Chris.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X