Kompas.com - 02/11/2013, 18:29 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Penempatan promosi di media elektronik seperti televisi dan radio secara berulang dan simultan, memang berpotensi memengaruhi publik untuk membuat sebuah keputusan. Terlebih promosi produk properti.

Dengan visualisasi rinci, publik diajak untuk menyelami kelebihan, kenyamanan dan gaya hidup yang dapat dinikmati di dalam properti tersebut. Hal tersebut tidak saja memengaruhi dalam pengambilan keputusan, melainkan juga hingga dalam tataran eksekusi; membeli.

Akan tetapi, media placement saja tidak cukup. Ternyata ada beberapa faktor penting lainnya yang berkontribusi besar terhadap kesuksesan penjualan produk properti.

Direktur Marketing Agung Podomoro Group, Indra W Antono, berbagi rahasia di balik kesuksesan mereka mampu meraup penjualan senilai Rp 3,5 triliun hanya dalam kurun sembilan bulan.

Menurut Indra, hal pertama yang harus diperhatikan adalah masalah lingkungan (environment) di mana lokasi proyek properti akan dibangun. Apakah lingkungan sekitar merupakan pusat bisnis, pendidikan, atau pemerintahan.

"Menguasai karakter lingkungan sangat penting, karena akan memengaruhi strategi pemasaran berikutnya," ujar Indra kepada Kompas.com, Sabtu (2/11/2013).

Faktor kedua yang tak kalah pentingnya adalah perhatian penuh pada demografi kawasan. Banyaknya jumlah populasi menjadi tidak berarti bila kemudian ceruk pasar yang dibidik justru tidak besar (gemuk) dan terbatas.

"Kami bermain di level menengah atas. Penduduk padat saja tidak cukup. Ceruk pasarnya harus ada dan berapa jumlahnya. Setelah itu, bagaimana pendapatan per kapitanya dan kemampuan membelinya (daya beli)," jelas Indra.

Sementara faktor ketiga adalah peka atau sensitif dalam menentukan harga (pricing). Agung Podomoro akan menetapkan harga jual yang disesuaikan dengan lokasi, dan kemampuan daya membeli. Pendek kata, harga yang dipatok dapat diserap pasar di kawasan tersebut (affordable).

"Jangan pernah mematok harga yang terlalu tinggi atau rendah. Hanya ada dua kemungkinan yang ditimbulkan; gagal atau sukses menjual. Kami pernah mengalami kegagalan karena menetapkan harga terlalu rendah akibat salah dalam membaca demografi dan lingkungan," buka Indra.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.