Kompas.com - 11/10/2013, 07:29 WIB
Seorang warga mengais sampah di kawasan pintu air Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2012). Pintu air Manggarai semakin dipenuhi sampah yang terbawa aliran sungai akibat debit air yang tinggi beberapa hari sebelumnya.
KOMPAS/YUNIADHI AGUNGSeorang warga mengais sampah di kawasan pintu air Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2012). Pintu air Manggarai semakin dipenuhi sampah yang terbawa aliran sungai akibat debit air yang tinggi beberapa hari sebelumnya.
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com - Berapa banyak sampai yang kita produksi setiap hari? Untuk wilayah Jakarta saja, produksi sampah 2012 lalu mencapai 6.500 ton per hari. Pemprov DKI Jakarta pun mengaku kewalahan menangani sampah tersebut. 

Ketimbang turut "menyumbang" penumpukan sampah daerah, tidak ada salahnya untuk mulai mencoba mengurangi produksi sampah dengan cara mengolah sampah sendiri. Sampah dapur, misalnya, bisa dijadikan pupuk yang tentunya mampu memberikan keuntungan bagi pemilik rumah sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi? Berikut ini keuntungan dan cara mudah mengolah sendiri sampah dapur Anda.

 
Setidaknya, ada dua alasan untuk mulai mengolah sampah dapur. Pertama, dalam skala kecil, Anda bisa menggunakan hasil olahan berupa pupuk kompos untuk memberikan nutrisi bagi tamanan di halaman rumah. Mungkin memang bukan pupuk kelas satu, namun setidaknya cukup untuk memberikan nutrisi mingguan bagi tanaman.

Alasan kedua, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Anda mengurangi sampah daerah. Meski tampak sepele, namun hal ini juga merupakan dukungan bagi usaha mewujudkan kota ideal.

 
Lantas, kini tinggal tiba waktunya bagi Anda untuk mulai mengolah sampah. Anda butuh wadah, bor, penyaring arang (charcoal filter) yang biasanya ada di tempat pembuangan kotoran kucing, gunting, lem, sendok berukuran besar, mangkuk, dan bila perlu mesin pemprosesan makanan.
 
Anda bisa menggunakan wadah besi bekas pakai, kaleng kopi, atau bahkan wadah khusus untuk membuat kompos. Anda hanya perlu mencari wadah yang memiliki penutup. Jika ingin membuat pupuk, bor dulu penutup wadah tersebut.
 
Setelah menyiapkan wadah dan berbagai perlengkapan lainnya, hindari bau tidak sedap dan serangga dengan menggunakan penyaring arang. Gunting melingkar hingga berukuran sama persis dengan penutup kontainer. Rekatkan saringan tersebut ke penutup wadah dengan lem. Dengan cara ini, oksigen akan tetap bergerak, namun serangan bau akan terhindar.
 
Masukkan bahan makanan dan makanan sisa yang tidak terpakai ke dalam wadah ini. Anda hanya perlu menghindari beberapa jenis makanan seperti makanan mengandung susu (es krim, tart, krim, yogurt), walnut hitam yang berbahaya bagi beberapa jenis tanaman, produk gandum, kertas (termasuk kertas printer, majalah, koran berwarna, katalog, amplop karena biasanya tercampur bahan kimia), daging, nasi (setelah dimasak, nasi merupakan bahan yang sangat mampu menarik bakteri), serbuk kayu, kotoran hewan peliharaan, arang, dan tanaman sakit.
 
Selanjutnya, Anda bisa memproses kompos yang akan dibuat. Langkah ini tidak harus Anda lakukan. Namun, melakukan hal ini akan mempermudah Anda "menaburkan" kompos. Anda bisa menggunakan prosesor makanan atau blender yang tidak lagi digunakan hingga kompos tercampur sempurna.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.