Wina, Kota yang Ramah untuk Perempuan!

Kompas.com - 30/09/2013, 16:19 WIB
www.theatlanticcities.com Berdasarkan data kantor pusat statistik nasional Austria, terungkap bahwa perempuan membutuhkan bangunan apartemen yang dikelilingi halaman. Halaman tersebut membuat orangtua dan anak-anak dapat menghabiskan waktu bersama tanpa harus pergi jauh dari rumah. Di kompleks apartemen tersebut pun ada taman kanak-kanak, apotek, dan dokter. Hunian tersebut juga tidak jauh dari akses kendaraan umum.
KOMPAS.com — Sebetulnya, pemerintah di Wina, Austria, tidak hanya memperbaiki fasilitas untuk perempuan. Kaum laki-laki pun bisa memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah kota itu.

Tentunya, berbagai kota di Indonesia masih bermimpi memiliki jalan raya yang ramah bagi pejalan kaki. Bisa dikatakan, "mimpi" tersebut terlambat belasan tahun dari Austria yang telah sejak dulu menambahkan lampu penerang jalan, memperlebar trotoar, dan membuat tangga berukuran besar dengan jalur khusus untuk pengguna kursi roda.

Langkah pemerintah di Wina tersebut hanya sebagian dari kebijakan yang bertujuan untuk mempertimbangkan kebutuhan kaum laki-laki dan perempuan dalam porsi seimbang. Kebijakan ini sudah diinisiasi sejak awal 1990-an.

www.theatlanticcities.com Pembuatan fasilitas umum di jalan raya tersebut bermula pada survei oleh pemerintah setempat. Isi survei itu sederhana, yaitu seberapa sering dan apa alasan penduduk menggunakan transportasi publik.
Di Wina, kebijakan semacam ini disebut gender mainstreaming. Pembuatan fasilitas umum di jalan raya tersebut bermula dari survei pemerintah setempat. Isi survei itu sederhana, yaitu seberapa sering dan apa alasan penduduk menggunakan transportasi publik.

"Kebanyakan laki-laki mengisi kuesioner dalam waktu kurang dari lima menit. Namun, perempuan tidak bisa berhenti menulis," ujar Ursula Bauer, salah satu petugas administrator Wina.

Bauer menceritakan bahwa pada umumnya kaum laki-laki menggunakan mobil atau kendaraan umum dua kali sehari untuk pergi bekerja dan pulang di malam hari. Sementara itu, kaum perempuan memiliki mobilitas jauh lebih tinggi dengan menggunakan jaringan trotoar kota, bus, kereta bawah tanah, dan angkutan umum dengan alasan yang jauh lebih banyak.

"Kaum perempuan memiliki lebih banyak pola pergerakan yang lebih bervariasi," ujar Bauer kepada The Atlantic Cities.

"Mereka menulis hal-hal seperti. Saya mengantar anak ke dokter suatu pagi, kemudian mengantar mereka ke sekolah sebelum berangkat ke kantor. Kemudian, saya membantu ibu saya membeli belanjaan dan menjemput anak saya dengan menggunakan kereta (metro)," tuturnya.

www.theatlanticcities.com Kesimpulannya, perempuan menggunakan fasilitas publik, termasuk kendaraan umum dan trotoar jauh lebih sering dari kaum laki-laki. Mereka lebih sering membagi waktu antara kerja dan komitmen keluarga.
Kesimpulannya, perempuan menggunakan fasilitas publik, termasuk kendaraan umum dan trotoar jauh lebih sering dari kaum laki-laki. Mereka lebih sering membagi waktu antara kerja dan komitmen keluarga.

Berbekal alasan itulah, petugas tata kota membuatkan rencana untuk meningkatkan mobilitas pejalan kaki dan fasilitas transit publik. Mereka merancang penambahan lampu jalan agar lebih aman bagi perempuan di malam hari, melebarkan trotoar, dan membuat jembatan-jembatan penyeberangan dengan jalur khusus pengguna kursi roda.

Hal ini sebelumnya juga sudah didengungkan oleh Eva Kail. Kail kini bekerja sebagai ahli jender pada Urban Planning Group Kota Wina.

Mudah bagi perempuan

Sebelumnya, tepatnya pada 1991, Kail dan kelompoknya sempat menunjukkan kepada pemerintah lewat karya fotografi bahwa perempuanlah pengguna terbanyak jalan-jalan umum di Wina. Mereka butuh jaminan keamanan berlalu lalang di jalanan Wina. Hal ini didukung oleh ekspos besar-besaran yang dilakukan oleh pers, hingga akhirnya pemerintah di Wina bergerak.

Pada 1993, Pemerintah Kota Wina membuat kompetisi desain Frauen-Werk-Stadt atau Kota-Pekerja-Perempuan berupa kompleks apartemen yang didesain khusus untuk perempuan. Idenya pada waktu itu adalah membuat hunian yang lebih mudah bagi perempuan.

Berdasarkan data kantor pusat statistik nasional Austria, terungkap bahwa perempuan membutuhkan bangunan apartemen yang dikelilingi halaman. Halaman tersebut membuat orangtua dan anak-anak dapat menghabiskan waktu bersama tanpa harus pergi jauh dari rumah. Di kompleks apartemen tersebut pun ada taman kanak-kanak, apotek, dan dokter. Hunian tersebut juga tidak jauh dari akses kendaraan umum.

Inilah bentuk gender mainstreaming. Gender mainstreaming telah diterapkan di ibu kota Austria sejak awal 1990.

Dalam praktiknya, administrator kota akan membuat hukum, aturan, dan regulasi yang menguntungkan kaum laki-laki dan perempuan secara seimbang. Tujuannya untuk menyediakan akses yang sama bagi keduanya dalam menggunakan fasilitas dari pemerintah.

Seperti dikutip dalam The Atlantic Cities, Pemerintah Kota Wina mengklaim hal tersebut sejauh ini berjalan dengan baik. Tidak hanya untuk tata kota, gender mainstreaming juga dirancang oleh Pemerintah Austria untuk sistem pendidikan dan kesehatan.

Sumber:www.theatlanticcities.com 

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorLatief
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X