Kompas.com - 28/09/2013, 13:47 WIB
Terminal Baranang Siang akan beralih fungsi menjadi fasilitas komersial. Kristianto PurnomoTerminal Baranang Siang akan beralih fungsi menjadi fasilitas komersial.
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander
BOGOR, KOMPAS.com — Kota Bogor memiliki sejarah panjang. Berbagai peninggalan berupa artefak, bangunan, dan manuskrip sejak zaman Kerajaan Pajajaran hingga masuknya ekspedisi orang-orang Belanda membuktikan jauhnya perjalanan kota ini.

Salah satu contoh bangunan dan fasilitas yang masih bisa dinikmati warga Kota Bogor hingga saat ini adalah Istana Bogor. Istana ini dibangun pada 1745 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Baron van Inhoff. Kemudian, dilanjutkan dengan pembuatan Kebun Raya oleh Gubernur Jenderal pada masa kependudukan Inggris, Thomas Raffles.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam masa-masa pendudukan Belanda dan Inggris, Bogor menjelma menjadi kota impian. Kota tersebut dijadikan pusat pendidikan, penelitian, dan peristirahatan karena lokasinya yang sangat mendukung. Tidak heran, karena kota ini berada di ketinggian 190 meter sampai 330 meter di atas permukaan laut.

Lokasi ini membuat temperaturnya cukup rendah dan sejuk. Bahkan, pada bulan Desember hingga Januari, Kota Bogor bisa sedingin 21,8 derajat celsius. Namun, benarkah kini Kota Bogor masih menjadi "Kota Taman" impian?

Tampaknya julukan "Kota dalam Taman" hanyalah romantisme masa silam. Sebab, Bogor terbaru adalah kota yang gamang, kota yang tak memiliki kejelasan identitas dan karakter. Panas, sesak, kumuh, kotor, dan semrawut.

"Populasi bertambah, pembangunan sporadis dan kehilangan orientasi," ujar Yayat Supriyatna, pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Jakarta, kepada Kompas.com, Jumat (27/9/2013).

 
Menurut data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, pada tahun 2011, sebanyak 967.398 orang memadati Kota Bogor. Sejumlah 493.496 di antaranya berjenis kelamin laki-laki dan 473.902 penduduk berjenis kelamin perempuan. Densitas tersebut harus ditampung dalam wilayah perkotaan seluas 11.850 hektar.

Endah Wahyuningtias dari FMIPA UI dalam publikasi Lontar Universitas Indonesia berpendapat, bertambahnya jumlah penduduk secara konstan ditengarai karena adanya faktor penarik, seperti makin banyaknya fasilitas sosial-ekonomi dan statusnya sebagai kota penyangga Jakarta. 

 
Meski ditunjang pula dengan pemekaran wilayah kota, tampaknya tidak akan mampu membuat Bogor tetap lestari. Sebaliknya, pertambahan penduduk berpotensi mengancam fasilitas-fasilitas eksisting. Belum lagi alih fungsi tata ruang yang membuat pengembangan-pengembangan proyek baru, seperti hotel, pusat belanja, dan apartemen, marak dilakukan.

Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Bogor Mustaid Siregar, seperti dikutip Antara, mengatakan, pesatnya pembangunan di Kota Bogor menyebabkan keberadaan Kebun Raya kian terancam. Tidak hanya karena polusi udara, tetapi juga ketersediaan air. 

 
"Tanda-tanda ancaman itu sudah ada. Kalau seminggu tidak turun hujan di sini, maka dengan sangat cepat daun-daun kering dan rontok," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.