Belanda Bersiap Memetakan Arsitektur Era Kolonial Eropa

Kompas.com - 18/09/2013, 12:32 WIB
Warga beraktivitas di depan Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik di kawasan wisata kota tua Jakarta, Minggu (27/3/2011). Gedung yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1870 tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1972 dan sekarang dijadikan Museum Seni Rupa dan Keramik.  KOMPAS/IWAN SETIYAWANWarga beraktivitas di depan Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik di kawasan wisata kota tua Jakarta, Minggu (27/3/2011). Gedung yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1870 tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1972 dan sekarang dijadikan Museum Seni Rupa dan Keramik.
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com — Universitas Teknologi Delft (Delft University of Technology) dari Belanda mencoba mengembangkan inovasi akses terbuka penyimpanan digital untuk menjadi sumber tentang beragam arsitektur kolonial dan tata kota Eropa. Penyimpanan digital ini dimulai dari periode sekitar 1850 hingga 1970 yang didanai oleh Netherlands Organisation for Scientific Research.

Digital repository atau penyimpanan digital merupakan suatu alat multibahasa, akses terbuka, dan dapat diakses dari seluruh dunia dengan mengombinasikan keahlian perpustakaan digital dari para peneliti internasional dan para profesional dengan spesialisasi pada arsitektur dan perencanaan kota kolonial Eropa setelah periode 1850.

Dengan menyediakan akses ke sumber geografis terisolasi meliputi materi cetak, gambar, peta, serta arsip bagi para akademisi, pembuat kebijakan, dan pihak lain yang tertarik, penyimpanan ini akan menyatukan dan membuka sumber-sumber yang sering kali tersebar luas.

"Dalam kurun waktu 15 tahun ini kami melihat peningkatan minat pada bangunan warisan kolonial di Indonesia, baik dari pihak Belanda maupun Indonesia," ujar Dr Pauline van Roosmalen, koordinator proyek digitalisasi tersebut dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (18/9/2013).

Untuk melanjutkan perkembangan ini, lanjut Roosmalen, perlu suatu infrastruktur digital yang berkesinambungan dan punya akses terbuka untuk menyimpan dan bertukar data, serta menjadi sumber tentang bangunan warisan kolonial di Indonesia dan Belanda.

Untuk membahas hal tersebut, pekan depan, Universitas Teknologi Delft mengadakan empat lokakarya di beberapa kota di Jawa. Lokakarya ini bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi Indonesia seperti Universitas Petra di Surabaya (19 September), Jakarta (23 September), Bandung (24 September), dan Yogyakarta (26 September).

"Lokakarya ini sebetulnya untuk memperkenalkan tentang penyimpanan digital, mempelajari proyek-proyek Indonesia yang terkait, serta berbagi pengalaman dan mendiskusikan proyek kerja sama dengan calon mitra dari Indonesia," ujar Mervin Bakker, Direktur Nuffic Neso Indonesia, yang menjadi fasilitator kegiatan ini.

"Tentu, akan sangat baik jika usaha gabungan antara Indonesia dan Belanda ini menghasilkan sumber dengan akses terbuka bagi akademisi, pembuat kebijakan, arsitek, dan pihak-pihak lain di Indonesia, Belanda, dan lainnya," tambahnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X