Kompas.com - 10/09/2013, 14:37 WIB
Setiap perhelatan akbar, sekelas Olimpiade, berpotensi meningkatkan detak perekonomian negara penyelenggara. Begitu pula dengan penyelenggaraan Olimpiade 2020 kelak di Tokyo, Jepang. BloombergSetiap perhelatan akbar, sekelas Olimpiade, berpotensi meningkatkan detak perekonomian negara penyelenggara. Begitu pula dengan penyelenggaraan Olimpiade 2020 kelak di Tokyo, Jepang.
|
EditorLatief
Bloomberg IOC memproyeksi, pengaruh ekonomi senilai Rp 130 triliun. Nilai terbesar akan terjadi pada industri jasa yakni sekitar 651 miliar yen (Rp 66,3 triliun), disusul kemudian industri konstruksi senilai 475 miliar yen (Rp 48,3 triliun), dan sektor properti 152 miliar yen (Rp 15,4 triliun).
Bloomberg Selain peningkatan bisnis dan investasi, laga Olimpiade di Tokyo bakal menstimulasi pemulihan nilai properti setelah anjlok selama 20 tahun.
TOKYO, KOMPAS.com — Perhelatan akbar sekelas olimpiade berpotensi meningkatkan detak perekonomian negara penyelenggara. Begitu pula dengan penyelenggaraan Olimpiade 2020 kelak di Tokyo, Jepang.

Hal tersebut diakui Komite Olimpiade Internasional (IOC). Mereka memproyeksi, pengaruh ekonomi senilai Rp 130 triliun. Nilai terbesar proyeksi itu akan terjadi pada industri jasa, yakni sekitar 651 miliar yen (Rp 66,3 triliun), disusul kemudian industri konstruksi senilai 475 miliar yen (Rp 48,3 triliun), dan sektor properti 152 miliar yen (Rp 15,4 triliun).

IOC mencatat, Olimpiade London yang diadakan pada 2012 juga mencetak peningkatan bisnis dan investasi senilai 9,9 miliar poundsterling (Rp 154,3 triliun).

Selain peningkatan bisnis dan investasi, laga olimpiade di Tokyo ini juga bakal menstimulasi pemulihan nilai properti setelah anjlok selama 20 tahun. Sekitar 90 persen tempat-tempat pertandingan berjarak 8 kilometer (5 mil) dari perkampungan atlet di Harumi, yang menempati lahan reklamasi sekitar 2 kilometer sebelah tenggara dari pusat kota Tokyo. Perusahaan jasa penilai properti, Sanyu Appraisal Corp, mengatakan, harga apartemen di kawasan ini bisa meningkat sebanyak 20 persen.

Terpilihnya Tokyo sebagai tuan rumah pesta olahraga sedunia ini bertepatan dengan pemulihan pasar properti, di tengah harapan bahwa kebijakan Perdana Menteri Shinzo Abe akan mengakhiri 15 tahun deflasi negara itu. Sama seperti Olimpiade musim panas 1964 yang berpengaruh luas terhadap pengembangan lahan-lahan kosong menjadi hunian terintegrasi, Olimpiade 2020 juga akan membantu pertumbuhan properti Tokyo.

Membaiknya infrastruktur, taman, stadion, dan transportasi menyebabkan nilai properti di sekitarnya akan meningkat secara dramatis. Yoji Otani, seorang analis Deutsche Securities, memperkirakan bahwa kawasan yang tadinya tak bernilai apa-apa bakal berubah menjadi emas dan memikat investor mana pun.

Saat ini, harga apartemen di Harumi sekitar 8.300 dollar AS per meter persegi (Rp 92,4 juta), berada di bawah rerata harga apartemen di pusat kota Tokyo yang mencapai 868.000 yen per meter persegi (Rp 97,042 juta). Sementara itu di Komazawa, tempat arena segala macam cabang olahraga dimainkan, mencatat harga 877.000 yen per meter persegi (Rp 98,04 juta).

Selain membangun stadion, Tokyo juga mengembangkan perkampungan atlet seluas 44 hektar. Kompleks hunian untuk olahragawan sejagat raya tersebut akan menelan dana sekitar 985 juta dollar AS (Rp 10 triliun). Kenichi Kimura, pejabat keuangan Pemerintah Metropolitan Tokyo yang menginisiasi pembangunan ini, mengatakan bahwa pihaknya secara terpisah berencana mengalokasikan 153,9 miliar yen (Rp 15,6 triliun) untuk konstruksi baru dan renovasi di 11 lokasi.

Luas lahan perkampungan atlet
ini 28 persen lebih besar dari Disneyland Park di California dan akan menjadi yang terbesar di Tokyo sejak tahun 1971 ketika sebuah proyek perumahan skala kota, Tama New Town, dibangun di pinggiran barat Ibu Kota.

Empat kali lipat

Perkampungan olimpiade akan terdiri dari apartemen yang dikelilingi oleh Tokyo Bay, dengan pemandangan Rainbow Bridge yang menghubungkan pusat kota Tokyo dengan wilayah Odaiba yang menempati lahan reklamasi. Apartemen tersebut sebanyak 10.860 unit, yang terangkum dalam 24 bangunan, lengkap dengan pusat kebugaran, gym, ruang makan, restoran tepi pantai, dan taman.

"Kami berharap pengembangan lebih lanjut dari Tokyo Bay sangat menguntungkan pemilik tanah," ujar analis Macquarie Securities Ltd, Peter Eadon.

Pemilik lahan di daerah Tokyo Bay mencakup Mitsui Fudosan Co, Mitsubishi Estate Co, Sumitomo Realty & Development Co, Orix JREIT Inc, NTT Urban Development Corp, Sekisui House Ltd, dan Daiwa House Industry Co.

Selain itu, warga di Tokyo Waterfront City diharapkan tumbuh empat kali lipat menjadi 47.000 jiwa pada tahun 2016 dari 11.030 pada tahun 2010. Sementara itu, penduduk yang bekerja akan berlipat ganda menjadi 90.000 jiwa pada tahun 2016 dari sebelumnya 47.000 pada tahun 2010.

"Olimpiade dapat menarik gelombang baru investor untuk membangun hunian di Tokyo Bay. Hal ini akan mendongkrak harga properti," kata Daisuke Fukushima, seorang analis Nomura Securities Co.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.