Tambahan PPnBM Tak Akan Ganggu Pertumbuhan Properti

Kompas.com - 03/09/2013, 17:07 WIB
Ilustrasi: Sektor apartemen mewah yang terkena tambahan PPnBM sebesar 20 persen akan mengalami sedikit penurunan penjualan. www.ciputraworldjakarta.comIlustrasi: Sektor apartemen mewah yang terkena tambahan PPnBM sebesar 20 persen akan mengalami sedikit penurunan penjualan.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Properti merupakan salah satu barang mewah yang terkena pajak tambahan sebesar 20 persen, sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 121/PMK-011/2013 tentang jenis barang kena pajak yang tergolong mewah.

Namun, pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Mewah (PPnBM) tersebut, tidak akan mengganggu pertumbuhan sektor properti secara keseluruhan. Karena, properti yang terkena  tambahan PPnBM ini adalah hunian mewah seperti apartemen, town house, kondominium dan sejenisnya.

Demikian diungkapkan pengamat properti Panangian Simanungkalit kepada Kompas.com, di Jakarta, Selasa (3/9/2013).

Jenis properti tersebut pun terbagi lagi menjadi rumah mewah dan town house dari jenis non strata dengan luas bangunan di atas 350 meter persegi atau lebih. Sedangkan jenis strata, tambahan PPnBM diterapkan pada properti kondominium, apartemen dan town house dengan luas bangunan di atas 150 meter persegi.

"Kedua jenis properti dengan batasan luas bangunan yang telah ditetapkan tersebut menyasar segmentasi kelas menengah atas. Jadi, dampak kebijakan fiskal ini tidak terlalu signifikan sampai menggoyang sektor properti. Yang akan terjadi hanyalah pengurangan jumlah penjualan. Apalagi dalam situasi sekarang saat bunga bank naik," papar Panangian.

Harga properti menengah ke atas saat ini mencapai Rp 20 juta-Rp 30 juta per meter persegi. Ini artinya, pembeli harus mengucurkan dana sebesar Rp 3 miliar-Rp 7 miliar untuk satu unit apartemen atau hunian baik strata dan non strata.  Jumlahnya pun terbatas. Catatan Leads Property Indonesia, menunjukkan, pasok baru hunian jenis apartemen untuk kelas menengah atas hanya 14 persen dari total pasok 80.000 unit.

Menurut Panangian, uang sejumlah itu, bagi kelas menengah atas bukan masalah, karena mereka bukanlah kalangan yang sensitif terhadap angka. Sebaliknya, mereka sensitif terhadap gaya hidup. Oleh karena itu, ketika satu pengembang membangun apartemen berkonsep khusus bagi kalangan ini, pasti akan diikuti oleh pengembang lain, meski dalam jumlah unit terbatas.

"Yang akan mengganggu sektor properti justru bila pemerintah tidak dapat memastikan keputusan uang muka sebesar 20 persen hunian di bawah 70 meter persegi untuk kalangan menengah bawah," imbuhnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X