Kompas.com - 30/08/2013, 10:26 WIB
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com — Kendati tengah dirundung gejolak ekonomi yang dipicu terjerembabnya rupiah dan gonjang-ganjing pasar saham, Jakarta tetap menunjukkan pertumbuhan tertinggi untuk sektor properti residensial dan perkantoran di seluruh wilayah Asia Pasifik.

Berbagai data yang dilansir lembaga riset terkemuka, seperti Knight Frank dan Jones Lang La Salle, membuktikan Indonesia, terutama Jakarta, sebagai pilihan kedua paling populer untuk investasi properti di wilayah Asia Pasifik.

Properti residensial Jakarta memberikan keuntungan investasi dengan pertumbuhan harga tertinggi selama sembilan bulan berturut-turut. Dari data Global Cities Index yang dikeluarkan Knight Frank, pencapaian ini terjadi berkat kenaikan harga residensial sebesar 27,2 persen pada akhir kuartal II 2013. Angka ini lebih tinggi ketimbang periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, Dubai menyusul di posisi kedua, yakni 21,6 persen.

Properti perkantoran ibu kota Indonesia ini juga memimpin di Asia Pasifik dalam hal persentase keuntungan. Nilai kapitalnya meroket 10,2 persen pada kuartal kedua, dibandingkan pencapaian tiga bulan pertama 2013. Menurut riset Asia Pacific Index Jones Lang LaSalle, secara tahunan, properti perkantoran Jakarta mencetak keuntungan sebanyak 46,4 persen.

Selain itu, harga perkantoran sewa juga meningkat dengan keuntungan 9,8 persen pada kuartal kedua. Pertumbuhan harga ini merupakan yang tertinggi di Asia. Kenaikan harga sewa disebabkan menguatnya permintaan yang tidak terakomodasi maksimal dan kurangnya pasok ruang kantor yang berkualitas tinggi.

Meski harga sewa ruang kantor melesat, angkanya masih sangat rendah bila dibandingkan dengan harga sewa ruang kantor di Hongkong, yakni 309 dollar AS (Rp 3,37 juta) per meter persegi per tahun. Adapun Hongkong bertengger di angka 1.486 dollar AS (Rp 16,2 juta) per meter persegi per tahun.

Tahbis Jakarta paling "hot" di Asia Pasifik juga diakui perusahaan arsitektur Aecom yang mengeluarkan pernyataan pada pertengahan Agustus bahwa Jakarta memang mengejutkan. Kota ini berada pada peringkat atas, baik untuk potensi pertumbuhan pasar maupun profitabilitas. Sementara itu, kota-kota di China justru mendapat nilai buruk.

Meski demikian, berbagai pencapaian melesatnya pertumbuhan harga dan permintaan sektor properti perkantoran dan residensial tersebut bukan tidak mengakibatkan sejumlah risiko dan kekhawatiran.

Kemajuan pesat harga, khususnya residensial, justru diwaspadai bank sentral dengan memperketat aturan pinjaman pada bulan Juli. Bank Indonesia menaikkan uang muka minimum 40 persen dari harga pembelian untuk rumah kedua, dan 50 persen pada rumah ketiga, naik dari sebelumnya di ambang 30 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.