"Benteng" Beton Ini Melindungi Penghuni Dari Cuaca Ekstrem

Kompas.com - 28/08/2013, 10:32 WIB
Rumah yang disebut dengan archdaily.comRumah yang disebut dengan "The House Cast in Liquid Stone" ini merupakan hasil karya SPASM Design Architects.
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander
archdaily.com Bangunan berbentuk masif ini, memberikan naungan ideal bagi area tropis. Penghuni rumah ini tentu dapat menikmati kesederhanaan yang ditawarkan.
archdaily.com Para arsitek membangun rumah tersebut dari perpaduan antara air, pasir, semen, dan butiran basal. Dinding-dinding beton berhasil menjadi benteng perlindungan bagi pemilik rumah dari terpaan cuaca ekstrem.
KOMPAS.com - Rumah yang disebut dengan "The House Cast in Liquid Stone" ini merupakan hasil karya SPASM Design Architects. Sekilas, nama yang disandang tampak serasi dengan tampilannya. Abu-abu kehitaman dari beton ekspos merupakan karakteristik utama rumah berukuran 638 meter persegi di Khopoli, Maharashtra, India ini.

Sangeeta Merchant, Mansoor Kudalkar, Gauri Satam, Lekha Gupta, dan Sanjeev Panjabi merupakan tim desain yang merancang rumah tersebut.

Rumah ini dibangun sebagai hunian kedua pemiliknya, di atas tanah berbatu di dataran tinggi sebelah barat, tepatnya di Khopoli. Area rumah ini memiliki curah hujan tinggi, terutama pada musim-musim tertentu. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, penghuni rumah ini juga harus menghadapi temperatur tinggi dan panas.

Bangunan berbentuk masif dengan plafon tinggi, memberikan naungan ideal bagi area tropis. Penghuni rumah ini tentu dapat menikmati kesederhanaan yang ditawarkan.

"Kami pilih membangun rumah ini sebagai sebuah penambahan pada dataran bebatuan basal dengan material yang sama, namun ditransformasikan," ujar para arsitek. Mereka membangun rumah tersebut dari perpaduan antara air, pasir, semen, dan butiran basal. Dinding-dinding beton berhasil menjadi benteng perlindungan bagi pemilik rumah dari terpaan cuaca ekstrem.

Bebatuan digunakan dalam berbagai bentuk di rumah ini. Warna-warna gelap dari bebatuan tersebut berhasil menjadikan rumah sangat berkarakter. Meski "keras", penggunaan kayu pada pintu, pembatas, krei, serta berbagai furnitur seolah "melembutkan" interior rumah ini.

"Rumah merupakan sebuah tempat untuk hidup, atau apapun sebutan Anda, telah bertransformasi sebagai tempat untuk mengobservasi dan merasakan keindahan alam, sebagai peneduh melawan tajamnya sinar matahari tropis," ujar para arsitek.

Menurut mereka, rumah ini menguatkan drama yang "disediakan" oleh alam, tanpa perlu menambah kerumitan pada bangunan rumah. Bangunan yang terkesan kaku justru relevan dan tepat bagi situs ini.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X