Bisnis Hotel Syariah Menjanjikan

Kompas.com - 24/07/2013, 13:35 WIB
salah satu pembeda hotel syariah dan konvensional adalah pakaian muslim yang dikenakan petugas hotel. ticktab.comsalah satu pembeda hotel syariah dan konvensional adalah pakaian muslim yang dikenakan petugas hotel.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com -
Berbisnis hotel syariah memang tidak mudah. Ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi investor, terutama prinsip syariah itu sendiri yang terkait dengan kaidah "halallan thoyiban". Kaidah ini meliputi dana investasi, pengelolaan, plus makanan dan minuman.

"Segala hal harus sesuai syar'i. Dalam hal operasional pun, mulai dari pakaian muslim untuk petugas hotel, seleksi tamu hotel, pemisahan tamu laki-laki dan perempuan yang akan menggunakan fasilitas, hingga pelarangan minuman beralkohol," ujar Assistant Sales and Marketing Manager Hotel Sofyan, Ita Faridasari, kepada Kompas.com, di Jakarta, Rabu (24/7/2013).

Tak mengherankan jika pertumbuhan hotel syariah terhitung lambat dibandingkan dengan hotel konvensional. Sampai saat ini, jumlah hotel berlabel syariah bisa dihitung dengan jari. Jaringan hotel Sofyan baru memiliki dua properti yakni di Menteng dan Tebet, Jakarta. Sementara Metropolitan Golden Management (MGM) akan memiliki tiga properti. Selain Pekanbaru, mereka akan membuka Aziza Hotel di Solo dan Semarang, Jawa Tengah.

Ada pun sejumlah hotel syariah lainnya dikelola jaringan lokal yang tersebar di sejumlah kota besar dan kota kedua di Indonesia.

Namun demikian, bukan berarti bisnis hotel syariah tidak menguntungkan. Sebaliknya, fasilitas akomodasi dengan label khusus ini justru sangat menjanjikan. Hal ini mempertimbangkan kuatnya pasar domestik yang didorong pesatnya aktifitas meeting, incentives, convention, exhibition (MICE) dan meningkatnya jumlah pelancong bisnis.

Hotel syariah yang saat ini beroperasi, dianggap setaraf dengan hotel ekonomis (budget hotel) bintang dua dan tiga. Oleh karena itu, dana yang dibutuhkan untuk investasi pun serupa. 

Direktur PT Ciputra Property Tbk Artadinata Djangkar, mengatakan, anggaran untuk mengembangkan satu hotel ekonomis seperti CitraDream sekitar Rp 40 miliar-Rp 50 miliar. Lokasinya berada di pusat kota, strategis dan memiliki aksesibilitas memadai.

Dengan tarif per malam Rp 350.000-Rp 450.000, Arta mengasumsikan dapat mencapai pengembalian modal (pay back) dalam waktu 6 hingga 8 tahun ke depan.

General Manager Aziza Hotel, Dede Fahruroji, mengatakan pangsa pasar hotel syariah tidak sebatas muslim. Non muslim juga termasuk dalam cakupan. Bahkan, saat Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri, pasar non muslim justru berkontribusi terhadap kinerja tingkat hunian.

"Saat ini, kami kedatangan tamu asal Belanda yang bermalam selama tiga minggu berturut-turut (long stay). Kinerja tingkat hunian Aziza Hotel secara year to year mencapai 55 persen, 58 persen dan 60 persen selama tiga tahun berturut-turut. Angka ini di atas city occupancy sebesar 57,73 persen," ungkap Dede.

Jadi, berbisnis hotel syariah, menurut Dede, punya masa depan cerah. Aziza Hotel yang berlokasi di kawasan "abu-abu" di Pekanbaru, dalam arti bukan kawasan berbasis muslim, mampu meraup tingkat okupansi yang terus meningkat.

"Konon pula bila dibangun di kawasan berbasis muslim. Pastinya akan menjadi alternatif utama dan dapat berkompetisi dengan hotel konvensional," imbuh Dede.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X