Deli Grand City Medan Berganti Kepemilikan

Kompas.com - 12/07/2013, 14:24 WIB
Desain awal Deli Grand City akan diubah oleh pemilik baru menjadi superblok yang disesuaikan dengan akseptabilitas pasar. pti-architects.comDesain awal Deli Grand City akan diubah oleh pemilik baru menjadi superblok yang disesuaikan dengan akseptabilitas pasar.
|
EditorHilda B Alexander

MEDAN, KOMPAS.com-
Kepemilikan yang berganti atas proyek properti yang masih dalam konstruksi atau pun mangkrak di tengah jalan, tampaknya menjadi fenomena akhir-akhir ini. Tidak saja terjadi di Ibu Kota Negara, juga Ibu Kota Provinsi.

Terbaru adalah Deli Grand City, salah satu proyek properti terbesar di Medan, Sumatera Utara. Superblok ini awalnya direncanakan beroperasi secara bertahap tahun 2010. Hanya, karena kendala finansial, properti multifungsi di atas lahan seluas 5,2 hektar tersebut tak kunjung tuntas.

Hingga kemudian PT Sinar Menara Deli (SMD), sebagai pemilik sekaligus pengembangnya,   menjual sebagian besar saham kepemilikannya kepada Agung Podomoro Land (APLN) untuk meneruskan konstruksinya. SMD menjual 58 persen sahamnya senilai Rp 467 miliar. SMD dan mitra lokal lainnya masih memegang 42 persen saham sisanya.

Direktur Utama APLN, Trihatma Kusuma Haliman mengatakan, pihaknya tertarik mengakuisisi saham SMD sekaligus proyek Deli Grand City karena punya potensi. Medan merupakan kota terbesar kedua dan salah satu kota dengan perkembangan terpesat di Indonesia.

"Kami beruntung memperoleh lahan seluas ini di lokasi yang sangat strategis di pusat kota. Dengan nama besar serta pengalaman, kami ingin mengulang kesuksesan pengembangan konsep superblok di Jakarta untuk dibawa ke Medan," ujar Trihatma kepada Kompas.com, di Jakarta, Jumat (12/7/2013).

SMD akan mengembangkan Deli Grand City untuk pangsa pasar kelas menengah atas. Proyek ini akan terdiri atas 7 menara apartemen, satu menara perkantoran, satu menara hotel dan retail space berupa kios. Ketinggian masing-masing menara tersebut sekitar 20 hingga 30 lantai.

Harga inisial apartemen dipatok sebesar Rp 20 juta-Rp 25 juta per meter persegi, dan perkantoran dengan konsep kepemilikan strata title senilai Rp 25 juta-Rp 30 juta per meter persegi. Sementara untuk properti hotelnya, pihak SMD masih melakukan kajian akseptabilitas pasar yang menentukan jumlah kamar sekaligus tarifnya saat beroperasi nanti.

Namun, satu yang pasti, menurut Investor Relation APLN Wibisono, kelas hotel merupakan bintang lima. Pengembangan konsep baru akan dilakukan awal 2014 dan target beroperasi awal 2017.

"Kami mengharapkan superblok ini menghasilkan penjualan pemasaran lebih dari Rp 5 triliun dalam waktu 3–4 tahun mendatang. Adapun dana akuisisi saham seluruhnya berasal dari penjualan obligasi Mei lalu," ungkap Wibisono.

 




25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X