Kompas.com - 05/07/2013, 21:52 WIB
Pengendara melintas di depan  pelataran Rumah susun Jalan Komaruddin, Cakung, Jakarta Timur, Selasa (28/5/2013). Selain dipenuhi tumbuhan liar, banyak bagian rumah susun yang belum dihuni itu hilang dan rusak. Di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 6 menara rumah susun.
KOMPAS/WISNU WIDIANTOROPengendara melintas di depan pelataran Rumah susun Jalan Komaruddin, Cakung, Jakarta Timur, Selasa (28/5/2013). Selain dipenuhi tumbuhan liar, banyak bagian rumah susun yang belum dihuni itu hilang dan rusak. Di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 6 menara rumah susun.
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan rumah susun sederhana hasil realisasi kerja sama antara Kementerian Perumahan Rakyat dengan sejumlah Badan Usaha Milik Negara, terkendala penyelesaian proses administrasi tanah untuk lahan yang akan dibangun.

"Masalahnya di penyelesaian administrasi pertanahan," kata Deputi Perumahan Formal Kemenpera, Pangihutan Marpaung dalam diskusi "Menjaga Daya Beli dan Pasokan Rumah Bersubsidi di tengah Dampak Kenaikan Harga BBM" di Jakarta, Jumat (5/7/2013).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padahal, menurut Pangihutan Marpaung, Kemenpera telah beberapa kali menandatangani nota kesepahaman (MoU) seperti dengan Pertamina dan PLN serta satu MoU yang sedang dijajaki adalah dengan pihak Perum Badan Urusan Logistik (Bulog). Ia mencontohkan, salah satu lokasi yang sedang dikaji untuk pembangunan rumah susun sederhana antara lain di Karet, Jakarta Pusat.

Namun, pada saat ini dinilai banyak proyek properti yang mudah terwujud bila kerja sama itu dilakukan antara BUMN dengan berbagai pihak swasta yang bukan dalam rangka pembangunan rumah susun sederhana bagi warga yang membutuhkan.

Sebelumnya, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz dalam sejumlah kesempatan mendorong para perusahaan pengembang agar dapat membangun rumah susun, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk mengatasi masalah kekurangan rumah di Indonesia.

"Saya tidak akan bosan untuk meminta para pengembang agar membangun hunian vertikal seperti rumah susun di berbagai kota di Indonesia," kata Djan Faridz.

Menurut Djan Faridz, hal tersebut karena rumah susun dinilai sebagai salah satu solusi atas semakin terbatasnya lahan atau tanah untuk pembangunan perumahan di kawasan perkotaan. Menpera juga mendukung para pengembang yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) untuk terus membangun rumah susun dibanding pembangunan rumah tapak.

Namun demikian, ia mengingatkan agar pengembang juga ikut mendukung program "1.000 Tower" pemerintah dengan membangun rumah susun sederhana milik (rusunami).

"Rusunami dengan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga mereka juga bisa memiliki hunian tersebut," tuturnya.

Pengembang, lanjut dia, juga memiliki kewajiban untuk memberikan edukasi masyarakat untuk tinggal di rumah susun seperti ikut membantu dalam pembentukan Persatuan Penghuni Rumah Susun (PPRS). PPRS nantinya akan mengatur biaya servis untuk pemeliharaan lift, listrik dan air dan peraturan bagi para penghuni sehingga kualitas rumah susun tetap terjaga dengan baik.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.