Sistem Pengawasan Jarak Jauh Tak Menjamin Jembatan Aman

Kompas.com - 20/06/2013, 14:06 WIB
Kendaraan para pemudik khususnya yang menggunakan sepeda motor melintas di jembatan tol Suramadu, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (2/9/2011). Arus balik dari Madura menuju Surabaya pada hari ketiga lebaran mulai mengalami peningkatan. Diperkirakan puncak arus balik terjadi pada Minggu (4/9/2011).  KOMPAS/PRIYOMBODO Kendaraan para pemudik khususnya yang menggunakan sepeda motor melintas di jembatan tol Suramadu, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (2/9/2011). Arus balik dari Madura menuju Surabaya pada hari ketiga lebaran mulai mengalami peningkatan. Diperkirakan puncak arus balik terjadi pada Minggu (4/9/2011).
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief
BANDUNG, KOMPAS.com - Setelah berselang hampir dua tahun, Kepala Pusat Litbang Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum Herry Vaza angkat bicara mengenai tragedi runtuhnya Jembatan Kartanegara, Kalimantan Timur. Jembatan yang menjadi penghubung Samarinda-Tenggarong itu runtuh pada 26 November 2011 lalu.

Hal tersebut diungkapkan Herry di sela acara Kolokium Jalan dan Jembatan 2013 di Bandung, Rabu (19/6/2013). Ternyata, menurut Herry, pada saat kejadian jembatan tersebut tengah berada dalam pengawasan Kementerian Pekerjaan Umum.

"(Jembatai Kutai Kartanegara yang runtuh) Sebenarnya sudah dalam tahap itu. Sudah termonitor. Mereka sedang melaksanakan perbaikan, jadi bukan karena tidak termonitor," ujar Herry. 

Menurut dia, sistem teknologi pengawasan aktual jarak jauh jembatan atau Structure Health Monitoring System (SHMS) sudah dipasang di Jembatan Kartanegara. Sistem tersebut merupakan sistem yang sedang dikembangkan Balitbang Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum.

Sistem tersebut mampu memantau kondisi jembatan, menjadi semacam indikator yang seharusnya mampu menghindari kerusakan parah pada jembatan. Ada 15 sensor dipasang pada Jembatan Kertanegara sebelum kejadian. Menurut Herry, sistem ini akan dipasang di jembatan-jembatan khusus yang akan memiliki nilai strategis dan sangat berbahaya bila diabaikan.

Dengan runtuhnya Jembatan Kartanegara, kini sistem tersebut hanya ada di Jembatan Nasional Suramadu, jembatan yang melintasi Selat Madura dan menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. Herry mengatakan, pemasangan alat pemantau jarak jauh tersebut terbatas karena biayanya tidak murah, yaitu sekitar 2 persen dari investasi Jembatan Suramadu yang sebesar Rp 5 triliun. Balitbang sendiri masih menggodok sistem yang lebih murah untuk mengawasi gerakan jembatan.

Herry mengatakan, meski tidak mampu menjamin keamanan jembatan, namun sistem pengawasan ini penting agar pihak-pihak yang terkait bisa cepat tanggap mengurangi risiko kerusakan parah jembatan. Herry mengungkapkan bahwa beberapa jembatan lain seperti Pasupati dan Barito juga akan menggunakan sistem yang sama dengan Jembatan Suramadu. Namun, pihak swasta yang akan menanggung biayanya.

Dia menambahkan, saat ini Indonesia memiliki 88.000 jembatan dengan bentang seluruhnya berjumlah 1.000 km. Dari jumlah itu, sebanyak 30.000 di antaranya merupakan jembatan-jembatan nasional dengan nilai strategis.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X