Kompas.com - 17/06/2013, 16:26 WIB
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Jelang kenaikan tarif BBM, para pelaku industri properti melakukan aksi penyesuaian harga. Besaran kenaikan tersebut antara 3,5 persen hingga 10 persen. Beberapa pengembang bahkan memberlakukan kenaikan pada semua jenis properti yang dibangunnya.

PT Grahabuana Cikarang, "city developer" anak usaha PT Jababeka Tbk misalnya, berencana menaikkan harga jual properti residensial dan komersialnya. Tahun ini, mereka membuka dua klaster baru residensial, yakni Beverly Hills dan Oscar, dengan harga jual Rp 1,4 miliar per unit. Sedangkan properti komersialnya berupa ruko Hollywood Arcade dengan penawaran Rp 2,3 miliar.

Menurut Presiden Komisaris Grahabuana Cikarang, Tanto Kurniawan, pihaknya akan menyesuaikan harga jual untuk seluruh jenis propertinya sebesar 3,5 persen hingga 5 persen. Harga jual baru ini akan efektif diberlakukan pada 1 Juli nanti. Hal ini terkait dengan respon pasar pasca pengumuman perubahan tarif BBM.

"Kami sangat hati-hati menaikkan harga jual. Untuk itu, besarannya pun tidak terlalu jor-joran dan waktu pemberlakuannya tidak serta merta, karena kami melihat kenaikan tarif BBM ini bukan momentum untuk meraup untung. Tidak semua komponen material bangunan tergantung pada perubahan BBM. Jadi, harus dilihat proporsinya berdasarkan kontribusi terhadap biaya produksi," papar Tanto kepada Kompas.com, di Jakarta, Senin (17/8/2013).

Sementara itu, Relife Property akan mengubah harga jual produknya sebanyak 7 sampai 10 persen. Peningkatan harga ini dikenakan pada produk Greenland Cileungsi seharga Rp 280 juta per unit, Greenland Lombok seharga Rp 350 juta-Rp 1,2 miliar dan Pearl Garden Lombok seharga Rp 250 juta-Rp 700 juta.

Presiden Directur dan CEO Relife Property Group Ghofar Rozaq Nazila mengatakan, keputusannya menaikkan harga jual ini berdasarkan pertimbangan rasional yang diakibatkan oleh perubahan tarif BBM.

"Besaran kenaikan tidak terlalu agresif. Karena kami juga melihat dan menganalisa sektor biaya yang mengalami pembengkakan akibat melonjaknya tarif BBM tersebut. Kalau memang biaya produksinya naik sebesar 10 persen, otomatis akan mempengaruhi harga jual. Kami "bermain" di angka 5 sampai 10 persen," jelas Ghofar.

Baik Tanto maupun Ghofar sepakat mengatakan bahwa kenaikan BBM tidak serta merta mendongkrak pertumbuhan harga properti. Terutama di daerah yang masih bertumbuh, kenaikan harga justru didorong oleh peningkatan permintaan. Sebelum perubahan harga BBM pun, keduanya menyatakan telah menaikkan harga jual propertinya sebanyak 3 kali dalam setahun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.