Taman Lebih Penting Ketimbang Kartu Jakarta Sehat

Kompas.com - 16/06/2013, 11:24 WIB
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com -
Jakarta kini adalah kota dengan belantara beton. Gedung-gedung tinggi dan pusat belanja tersebar di mana-mana. Menyisakan sedikit saja belantara pepohonan dan taman. Porsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) terhadap total wilayah kota hanya 9,8 persen. Masih jauh dari target sekitar 30 persen.

Minimnya RTH ini mengundang keprihatinan. Padahal RTH yang salah satu wujudnya berupa taman, tak hanya mempercantik tampilan visual kota. Melainkan juga dapat mengurangi salah satu "penyakit kota" yakni kriminalitas.

Menurut Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna, dalam dialog Komunitas Peta Hijau Jakarta, menambah satu taman sama artinya mencegah satu tindakan kriminalitas. Selain itu, juga mengurangi menjamurnya permukiman kumuh.

Salah satu bukti nyata adalah Taman Cattleya di Jakarta Barat. Sejak taman tersebut didirikan oleh Pemprov DKI Jakarta, jumlah penjambretan dan kejahatan lain di sekitar lokasi taman jauh berkurang. Perhatian khusus terhadap tata kota dan pembangunan taman yang dapat menurunkan tingkat kriminal jauh lebih penting ketimbang menyiapkan kartu Jakarta sehat.

"Paradigma kota sehat bukan memberikan jaminan semacam ini. Ada aspek psikosomatis. Komparasi kualitas kehidupan ini yang dirindukan. Seharusnya program Jakarta Sehat juga dengan menambah kualitas kehidupan sehat," ujar Yayat kepada Kompas.com, di Jakarta, Sabtu (15/6/2013).

 
Sementara Pegiat Jakarta Hijau, Nirwono Joga mengatakan pentingnya dibangun taman-taman di antara rerimbunan hutan beton Jakarta. Tentu saja bukan sekadar taman, melainkan RTH yang ditanami dengan tanaman fungsional.

"Jakarta defisit RTH. Target 30 persen RTH dari seluruh wilayah Jakarta belum tercapai. Ironisnya, di seberang Taman Cattleya ini, ada Mal Taman Anggrek. Mal tersebut berdiri di atas ruang yang seharusnya menjadi RTH. Di satu pihak, kota ini berhasil menambah ruang terbuka, di sisi lain pemerintah justru menguranginya. Ini salah satu contoh kontradiksi," ujar Nirwono.

Jakarta, lanjut Nirwono, harus melengkapi dirinya dengan delapan indikator. Pertama, kota ini harus dirancang komprehensif dalam sebuah grand planning dan desainnya harus menuju Jakarta Hijau. Kemudian, green open space, yang menekankan pada implementasi dalam tata ruang. Penetapan alokasi 30 persen RTH, misalnya. Sementara, saat ini 67 persen tanah Jakarta sudah terbangun. Artinya, Jakarta hanya memiliki 33 persen tanah yang bisa diolah.

Kemudian, green transportation, green water dengan sistem drainase zero run off, green waste, green energy, serta green community.

Saat ini Kota Jakarta hanya memiliki 15 taman kota yang layak dikunjungi. Antara lain Taman Monas, Lapangan Banteng, Taman Suropati, Situ Lembang, Taman Menteng, Taman Semanggi, Taman Ayodya, Taman Langsat, Taman Leuser, Taman Puring, Taman Tumbuh Kembang, Taman KSI, dan Kepon Pisang. Padahal, ada 906 taman dalam berbagai ukuran di Jakarta. RTH tersebut sebenarnya berpotensi untuk mewujudkan Jakarta yang lebih baik dan lebih sehat.

 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.