Kompas.com - 24/05/2013, 20:30 WIB
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - ASEAN Economic Community yang akan diterapkan pada 2015 nanti, mendatangkan berbagai konsekuensi. Salah satunya adalah, ASEAN akan menjadi sebuah kawasan ekonomi bebas, besar dan kompetitif. Timbul pertanyaan kemudian, siapkah Indonesia menghadapi pasar bebas ini? Pasalnya hingga saat ini baik program pemerintah maupun dunia usaha belum terintegrasi dengan baik.

Jika AEC sudah diberlakukan, maka akan terjadi free flow of goods, free flow of services, free flow of investment, free flow of capital dan free flow of skilled labor. Mestinya, bila ingin mendapat kemanfaatan dari kebebasan pasar tersebut, daya saing dunia usaha semakin ditingkatkan tanpa mengabaikan prinsip market driven economy sesuai dengan ketentuan multilateral.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Effi Setiabudi, Indonesia harus siap menghadapi pasar bebas ini. Pelaku usaha Nasional tak bisa mencegahnya. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah meningkatkan daya saing, menambah jaringan bisnis (networking), mengasah kemampuan membaca tren pasar dan yang terpenting adalah menjaga ketahanan usaha agar kuat menghadapi serbuan pemain asing di jenis bisnis yang sama. 

"Dalam industri meeting, incentives, conference dan exhibition (MICE), sebelum AEC diberlakukan pun, sudah terdapat enam perusahaan penyelenggara pameran kelas dunia yang beroperasi di Indonesia. Sebut saja REED asal Inggris, UBM dan HKTCD. Mereka adalah global player yang kerap menyelenggarakan pameran berklasifikasi B2B (business to business)," ungkap Effi kepada Kompas.com, di Jakarta, Jumat (24/5/2013).

Jumlah enam event organizer asing tersebut, lanjut Effi, akan ditambah empat belas pemain lainnya yang akan masuk tahun ini. Sehingga jumlah total perusahaan penyelenggara pameran mancanegara yang ekspansi di Indonesia sebanyak 20 buah.

Kiamat? Effi memandangnya belum. Meski saat ini jumlah anggota Asperapi tak kunjung bertambah, namun ia masih memiliki kebanggaan. Menurutnya, event-event skala internasional berklasifikasi business to business (B2B) yang digelar di Jakarta atau Bali masih banyak yang dihelat oleh perusahaan penyelenggara pameran Nasional. Sebut saja Napindo, Debindo, dan Dyandra.

"Berbeda dengan di Thailand atau bahkan Singapura. Acara level dunia justru diselenggarakan oleh global player. Pemain lokalnya tak ada yang mampu unjuk gigi," terang Effi seraya menambahkan bahwa saat ini terdapat sepuluh perusahaan penyelenggara pameran Indonesia yang memiliki kemampuan melaksanakan acara konferensi dan pameran B2B.

 

 

 

Baca juga: Jakarta Kekurangan Gedung Pameran

 

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.