Kompas.com - 16/04/2013, 20:04 WIB
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com – Meski tidak pesat, harga properti residensial pada 2013 tetap tumbuh, yakni sebesar 6,8 persen (secara tahunan). Akan tetapi, pertumbuhan ini lebih rendah 2,2% dibanding semester II 2012, di mana lonjakan harga properti sempat mencapai level 9%. Sementara semester sebelumnya justru lebih tinggi yakni 13%.

Laporan Cushman and Wakefield menyebutkan turunnya laju pertumbuhan harga ini karena pengembang menunda peluncuran produk barunya pada 2012 selama Ramadhan dan juga pemberlakuan aturan loan to value (LTV) KPR maksimal 70% yang berdampak pada aksi wait and see konsumen.

Lepas dari itu, secara umum, harga properti sangat dipengaruhi oleh harga tanah, harga bangunan, ongkos perijinan dan jasa profesional. Harga tanah merupakan faktor pendorong yang utama. Ia akan selalu naik dari waktu ke waktu. Perbaikan dan penambahan fasilitas serta infrastruktur mempengaruhi eskalasi pertumbuhannya.

Jadebotabek mencatat kenaikan tahunan tertinggi pada 2010 yakni sebesar 30,3%, diikuti pertumbuhan tahunan yang juga signifikan sebesar 27,7% pada 2011 dan 27,8% pada 2012. Harga lahan berlanjut mengalami perkuatan pertumbuhan selama 2013 yakni mencapai angka 28%.

“Saat ini harga rata-rata lahan di Jadebotabek mencapai Rp 6,7 juta per meter persegi,” ungkap Senior Associate Director Research & Advisory Arief Rahardjo.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X