Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

9 Kesalahan Instalasi Listrik di Rumah yang Sering Dilakukan

JAKARTA, KOMPAS.com - Kesalahan dalam pemasangan dan penggunaan instalasi listrik rumah masih kerap ditemukan di masyarakat.

Padahal, praktik yang dianggap sepele dapat meningkatkan risiko sengatan listrik hingga kebakaran.

Dosen dan Peneliti Kelompok Keahlian Ketenagalistrikan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor, mengungkapkan sejumlah kesalahan instalasi listrik yang paling sering dilakukan, khususnya terkait pemasangan stopkontak dan saklar di rumah.

Berikut penjelasannya:

Kesalahan Umum saat Instalasi Listrik

1. Menumpuk banyak colokan di satu stopkontak

Kebiasaan menggunakan satu stopkontak untuk banyak peralatan sekaligus masih sering dilakukan, biasanya dengan bantuan terminal ekstensi atau stopkontak tambahan.

Menurut Kevin, beban listrik yang menumpuk pada satu titik dapat menyebabkan overload atau beban berlebih yang memicu panas tinggi dan berpotensi menimbulkan kebakaran.

"Risiko ini makin besar ketika beberapa alat berdaya tinggi seperti setrika, dispenser, dan rice cooker dicolokkan bersamaan pada satu ekstensi," ujar Kevin saat dihubungi Kompas.com, Kamis (21/04/2026).

2. Menyambung kabel hanya menggunakan lakban

Masyarakat juga kerap menyambung kabel secara manual dengan cara dililit lalu ditutup menggunakan lakban biasa.

Kevin mengatakan cara ini berisiko karena sambungan mudah longgar dan dapat memicu percikan api yang tidak terdeteksi oleh MCB.

"Percikan kecil di sekitar bahan mudah terbakar seperti gorden, kertas, atau sofa bisa menjadi pemicu kebakaran besar," katanya.

3. Mencabut colokan dengan menarik kabel

Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah mencabut steker dengan menarik kabelnya, bukan memegang kepala steker.

Menurut Kevin, kebiasaan tersebut dapat membuat sambungan antara kabel dan steker menjadi longgar.

"Hal ini sangat berisiko, terutama pada kabel ekstensi buatan sendiri, karena sambungan longgar dapat memicu percikan listrik," ujarnya.

4. Memodifikasi instalasi tanpa pengetahuan yang memadai

Kevin mengatakan banyak pemilik rumah melakukan modifikasi instalasi listrik sendiri tanpa memahami aspek teknis yang diperlukan.

Beberapa praktik yang kerap ditemukan antara lain menambah stopkontak tanpa memperhitungkan ukuran kabel yang sesuai, membuat kabel ekstensi dengan sambungan lakban, hingga mengganti MCB dengan rating yang lebih besar karena MCB lama sering turun atau trip.

Padahal, menurut dia, langkah tersebut dapat menimbulkan risiko baru.

"Mengganti MCB dengan rating lebih besar tanpa menyesuaikan ukuran kabel justru berbahaya, karena proteksi terhadap korsleting menjadi tidak sensitif dan kabel bisa terbakar sebelum MCB sempat memutus arus," kata Kevin.

5. Tidak memasang sistem pentanahan (grounding)

Sistem pentanahan atau grounding menjadi salah satu bagian instalasi yang sering diabaikan.

Grounding dilakukan dengan memasang batang pentanahan ke dalam tanah dan menghubungkannya ke stopkontak melalui kabel khusus. Namun, dalam praktiknya, kabel pentanahan berwarna hijau-kuning sering kali tidak terhubung sama sekali.

Akibatnya, ketika terjadi kebocoran arus pada peralatan berbahan logam seperti kulkas, dispenser, atau komputer, penghuni rumah berisiko mengalami sengatan listrik.

"Selain itu, tanpa grounding yang baik, peralatan proteksi seperti ELCB/RCD tidak dapat bekerja optimal mendeteksi kebocoran arus," ujar Kevin.

Ia menjelaskan bahwa instalasi yang ideal menggunakan tiga kabel pada setiap stopkontak.

"Idealnya, setiap stopkontak ditarik tiga kabel sekaligus: fasa, netral, dan tanah, bukan hanya dua kabel seperti yang umum ditemui di rumah-rumah lama," katanya.

6. Menggunakan stopkontak dan steker berkualitas rendah

Kevin juga menyoroti penggunaan stopkontak, steker, dan kabel ekstensi murah tanpa label Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menurut dia, produk semacam ini umumnya menggunakan kabel berukuran kecil, berbahan campuran, dan memiliki isolasi tipis yang lebih mudah rusak.

"Kombinasi ini meningkatkan risiko panas berlebih, korsleting, dan akhirnya kebakaran," ujarnya.

7. Memasang stopkontak tanpa memerhatikan IP Rating

Kesalahan yang juga sering ditemukan adalah pemasangan stopkontak tanpa memperhatikan IP Rating atau tingkat perlindungan terhadap debu dan air.

"Banyak rumah masih menggunakan stopkontak indoor biasa di dapur, teras terbuka, taman, area cuci, hingga kamar mandi," kata Kevin.

Padahal, lanjut dia, stopkontak jenis tersebut tidak dirancang untuk menghadapi percikan maupun rembesan air sehingga rentan mengalami korsleting.

Mengacu pada PUIL 2011, area yang rentan terkena air seperti dapur, ruang cuci, area dekat wastafel, dan teras berkanopi memerlukan stopkontak dengan perlindungan minimal IP44.

Sementara untuk kamar mandi diperlukan perlindungan minimal IPX4 serta pemasangan pada zona yang aman dari sumber air.

8. Memasang saklar di dalam kamar mandi tanpa memerhatikan zona aman

Menurut Kevin, pemasangan saklar lampu di dalam kamar mandi masih banyak ditemukan karena dianggap lebih praktis.

Padahal, PUIL 2011 membagi kamar mandi ke dalam empat zona risiko, yaitu Zona 0 hingga Zona 3. Saklar dinding biasa hanya diperbolehkan dipasang di Zona 3.

"Idealnya, saklar lampu kamar mandi dipasang di luar pintu kamar mandi, sehingga sepenuhnya bebas dari paparan air, uap, dan kelembapan," ujarnya.

Ia menambahkan, jika saklar harus ditempatkan di dalam kamar mandi, maka perlu menggunakan saklar tarik atau saklar dengan perlindungan minimal IPX4 yang dipasang di zona aman.

9. Memasang saklar lampu pada kabel netral, bukan kabel fasa

Kesalahan terakhir adalah pemasangan saklar lampu pada kabel netral, bukan pada kabel fasa.

Menurut Kevin, kesalahan ini sering tidak disadari karena lampu tetap dapat menyala dan padam seperti biasa.

"Secara standar PUIL, saklar lampu wajib dipasang pada kabel fasa (bertegangan), bukan pada kabel netral. Tujuannya agar ketika saklar dimatikan, aliran listrik bertegangan benar-benar terputus sebelum mencapai fitting lampu," katanya.

Ia menjelaskan bahwa jika saklar dipasang pada kabel netral, fitting lampu tetap dialiri tegangan meski lampu dalam kondisi mati.

"Yang berbahaya, kesalahan ini menciptakan rasa aman palsu. Penghuni yakin sudah mematikan listrik ke lampu, padahal sumber tegangan masih aktif di fitting," ujar Kevin.

Untuk pengecekan sederhana, ia menyarankan pengguna mematikan saklar, melepas bohlam, lalu menempelkan tespen ke bagian logam fitting.

"Jika tespen menyala, berarti saklar terpasang pada jalur yang salah dan perlu diperbaiki oleh teknisi," katanya.

https://properti.kompas.com/read/2026/06/02/081531721/9-kesalahan-instalasi-listrik-di-rumah-yang-sering-dilakukan

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar