BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Jababeka
Salin Artikel

Bangun Hunian Berkonsep Growing House, Milenial Perlu Tahu Hal Ini

KOMPAS.com – Hunian dengan aksesibilitas yang mudah kini menjadi incaran sebagian orang. Salah satu yang jadi pertimbangan sebelum membeli hunian adalah kedekatan kawasan residensial dengan sarana transportasi umum.

Hal ini ditunjukkan hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2-2018 yang dilakukan bersama lembaga riset asal Singapura. Survei tersebut menyebutkan, 87 persen responden menganggap kedekatan hunian dengan sarana transportasi umum adalah hal penting.

Dengan akses yang mudah, penghuni pun bisa lebih praktis dan efisien dalam menjalani aktivitas sehari-hari, terutama bagi mereka yang bekerja di pusat kota.

Selain kemudahan akses, hunian fleksibel yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan juga menjadi pertimbangan calon konsumen. Adapun kebutuhan yang dimaksud berkaitan dengan pertambahan jumlah anggota keluarga maupun kebutuhan aktivitas di dalam rumah.

Di tengah kebutuhan pada hunian tersebut, konsep growing house atau rumah tumbuh kini banyak diminati masyarakat dan mulai ngetren. Konsep ini dinilai cocok untuk menyiasati kebutuhan ruang di masa depan tanpa harus membongkar atau melakukan renovasi secara besar-besaran.

Karenanya, konsep growing house menjadi salah satu alternatif berbagai kalangan dalam membangun rumah, termasuk generasi milenial untuk mewujudkan hunian idaman.

Konsep growing house

Adapun ide utama growing house atau rumah tumbuh adalah membangun rumah secara bertahap yang disesuaikan dengan prioritas kebutuhan hunian yang esensial. Pembangunan tersebut dapat berlangsung dalam jangka waktu panjang.

Berdasarkan arah pengembangannya, desain rumah tumbuh terbagi dalam dua jenis, yaitu rumah tumbuh horizontal dan vertikal.

Sesuai arahnya, rumah tumbuh horizontal berkembang ke arah samping, depan, atau belakang. Dengan arah pertumbuhan tersebut, luas rumah pun secara otomatis akan bertambah.

Oleh karena itu, untuk mengembangkan rumah tumbuh horizontal diperlukan lahan kosong yang cukup luas.

Sementara, rumah tumbuh vertikal dibangun ke arah atas sehingga nantinya rumah mempunyai lebih dari satu lantai. Dengan demikian, pemilik rumah perlu menyiapkan fondasi yang kokoh sebagai syarat mutlak agar bangunan dan penghuni rumah terjamin keamanannya.

Adapun keunggulan hunian dengan konsep growing house terletak pada fleksibilitas dalam proses pembangunannya.

Pemilik rumah bisa mengatur sendiri bagian rumah yang akan dikembangkan. Selain itu, pemilik juga bisa menentukan anggaran, kualitas, dan desain pengembangan rumah sendiri.

Membangun growing house

Berbeda dengan rumah biasa, membangun rumah dengan konsep growing house membutuhkan perencanaan yang matang sejak awal.

Setidaknya, perencanaan ini harus mencakup berbagai kebutuhan saat ini hingga masa depan, misalnya antara 10 hingga 50 tahun ke depan. Perencanaan juga harus mencakup pemilihan konsep pengembangan horizontal, vertikal, atau gabungan keduanya.

Pemilihan konsep pengembangan tersebut ditentukan berdasarkan luas lahan yang tersedia. Jika lahan memadai, membangun secara horizontal bisa jadi pilihan. Sebaliknya, bila lahan terbatas, pilihannya adalah membangun rumah ke atas.

Bila memilih konsep pengembangan vertikal, pastikan membangun rumah dengan kerangka yang memungkinkan untuk dikembangkan jadi rumah tingkat.

Pemilik hunian bisa menggandeng tenaga ahli seperti arsitek dan kontraktor agar pengembangan growing house lebih efisien dan bisa meminimalisasi kekeliruan.

Tenaga ahli tersebut biasanya ikut membantu pengurusan surat izin mendirikan bangunan (IMB). Dengan begitu, pemilik tidak perlu repot.

Nah, saat mendesain growing house pada tahap awal, prioritaskan membangun ruangan yang esensial, seperti kamar mandi, ruang tengah atau ruang keluarga. Pasalnya, ruang tengah bersifat multifungsi dan bisa merangkap sebagai kamar tidur sekaligus ruang tamu.

Bila luas lahan terbatas, cukup buat satu ruangan besar terbuka multifungsi. Di ruang tersebut, dapur, ruang makan, dan ruang tamu dapat menyatu.

Karena sifat pembangunannya bertahap, konsistensi pemakaian material yang sama patut diperhatikan dalam perencanaan membangun rumah. Hal ini agar kualitas hunian tidak timpang antara growing house tahap awal dan pengembangan selanjutnya.

Sementara dari sisi perhitungan biaya, pemilik hunian perlu mempertimbangkan kenaikan harga material dan upah di masa mendatang.

Beli rumah berkonsep growing house

Selain membangun dari nol, sebenarnya ada pilihan mudah untuk memiliki rumah berkonsep growing house. Saat ini, pengembang ternama mulai menawarkan rumah dengan konsep tersebut kepada calon konsumen, salah satunya PT Jababeka Tbk.

Developer yang mendapatkan dua penghargaan Indonesian Properti Award 2020 ini menawarkan hunian berkonsep growing house melalui anak perusahaannya, Jababeka Residence, di Kota Jababeka, Cikarang, Jawa Barat.

Tepatnya, pada akhir 2020, Jababeka merilis produk inovatif Compact and Growing House – Wimbledon Jababeka di kawasan Mega Cluster Sport City seluas 34 hektare (ha).

Konsep growing house di Cluster Wimbledon Jababeka dihadirkan dengan memadukan konsep healthy lifestyle.

Jadi, selain rumah bisa dikembangkan di kemudian hari, desain rumahnya pun sudah mendukung gaya hidup sehat di masa new normal.

Dari segi aksesibilitas, Cluster Wimbledon bisa diakses melalui tiga jalan tol sehingga waktu tempuh menuju Jakarta hanya memakan waktu 45 menit.

Kawasan residensial ini juga dekat dengan akses transportasi umum. Stasiun Kereta Commuter Line pun bisa ditempuh dalam 5 menit.

Pun, kawasan tersebut sudah terhubung dengan layanan shuttle bus JR Connexion. Layanan ini menghubungkan Hollywood Junction Jababeka dengan beberapa titik di Jakarta, seperti Blok M, Jakarta Kota, dan Ancol.

Sementara dari segi fasilitas, Wimbledon terhubung dengan Sport Hub seluas 1 hektare yang dirancang konsultan multinasional AECOM, serta dikelilingi oleh berbagai fasilitas modern, seperti lapangan golf internasional yang didesain professional golfer Nick Faldo, pusat pendidikan, pusat kesehatan, hingga lifestyle center dan shopping center.

Adapun hunian Cluster Wimbledon ditawarkan dalam dua tipe, yakni tipe 1 dengan luas tanah 40 meter persegi dan bangunan 36 meter persegi. Sementara tipe 2 dengan luas tanah 60 meter persegi dan luas bangunan 54 meter persegi.

Kedua tipe ini mengusung desain minimalis beratap tinggi atau high ceiling level dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dan 1 carport.

Kedua tipe tersebut juga memiliki space tambahan yang dapat dimanfaatkan penghuni untuk ekspansi ruang di kemudian hari sesuai konsep growing house.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Cluster Wimbledon dari Jababeka, Anda bisa klik tautan ini atau menghubungi (021) 5092 8589.

https://properti.kompas.com/read/2020/12/12/070600321/bangun-hunian-berkonsep-growing-house-milenial-perlu-tahu-hal-ini

Terkini Lainnya

Rakyat Portugal Menjerit, Harga Rumah Naik 2 Kali Lipat
Rakyat Portugal Menjerit, Harga Rumah Naik 2 Kali Lipat
Berita
Kimi Antonelli Punya Rumah Sendiri di Usia 19 Tahun, Sang Ibu Bantu Desain
Kimi Antonelli Punya Rumah Sendiri di Usia 19 Tahun, Sang Ibu Bantu Desain
Listing Properti
Gaji Rp 2 Juta Sebulan, Sopir Mikrolet Tinggal di Rumah 16,6 Meter Persegi
Gaji Rp 2 Juta Sebulan, Sopir Mikrolet Tinggal di Rumah 16,6 Meter Persegi
Berita
Nama di Sertifikat Tanah Salah? Konsultasikan lewat Mobil Layanan BPN
Nama di Sertifikat Tanah Salah? Konsultasikan lewat Mobil Layanan BPN
Berita
Industri dan Konser Menyelamatkan Jakarta di Tengah Pelemahan Rupiah
Industri dan Konser Menyelamatkan Jakarta di Tengah Pelemahan Rupiah
Berita
Sempat Ditawarkan Rp 1,5 Triliun, Rumah Michael Jackson Terjual Rp 300 Miliar
Sempat Ditawarkan Rp 1,5 Triliun, Rumah Michael Jackson Terjual Rp 300 Miliar
Arsitektur
Alasan Kebanyakan Gagang Palu Dibuat dari Kayu dan Plastik, Bukan Besi
Alasan Kebanyakan Gagang Palu Dibuat dari Kayu dan Plastik, Bukan Besi
Berita
Hujan Ekstrem Mengintai Jakarta, Pakar: Jangan Cuma Andalkan Sodetan KBT
Hujan Ekstrem Mengintai Jakarta, Pakar: Jangan Cuma Andalkan Sodetan KBT
Berita
Penghasilan Rp 900.000 Sebulan, Pemulung di Klender Terima Bantuan Bedah Rumah
Penghasilan Rp 900.000 Sebulan, Pemulung di Klender Terima Bantuan Bedah Rumah
Berita
Investasi Sektor Properti Tembus Rp 120,4 Triliun hingga September 2026
Investasi Sektor Properti Tembus Rp 120,4 Triliun hingga September 2026
Berita
Investasi Sektor Properti Tembus Rp 34,6 Triliun di Triwulan III 2026
Investasi Sektor Properti Tembus Rp 34,6 Triliun di Triwulan III 2026
Berita
Bukan Sekadar Hiasan, Ini Makna Wuwungan pada Rumah Tradisional Jawa
Bukan Sekadar Hiasan, Ini Makna Wuwungan pada Rumah Tradisional Jawa
Arsitektur
Ritel dan Hotel Melonjak, Recurring Income Pakuwon Tembus Rp 4,44 Triliun
Ritel dan Hotel Melonjak, Recurring Income Pakuwon Tembus Rp 4,44 Triliun
Berita
Penyaluran FLPP Capai 194.360 Unit hingga Oktober 2026, Total Rp 24,22 Triliun
Penyaluran FLPP Capai 194.360 Unit hingga Oktober 2026, Total Rp 24,22 Triliun
Berita
Tanah Warisan Masih Girik? Lurah Bisa Bantu Telusuri Riwayatnya
Tanah Warisan Masih Girik? Lurah Bisa Bantu Telusuri Riwayatnya
Tips Properti
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar