Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Harga Apartemen Mewah di CBD Jakarta Turun, Jadi Rp 52 Juta Per Meter Persegi

Namun pengembangan apartemen mewah di ibu kota menunjukkan pelambatan mulai tahun 2016 hingga saat ini.

Di area Central Business District (CBD) Jakarta misalnya. Berdasarkan riset Savills Indonesia, sebagai area paling prestisius, proyek apartemen di CBD Jakarta memiliki harga tertinggi dibandingkan dengan kawasan lain.

Director Research Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan, puncak pertumbuhan harga apartemen mewah di CBD terjadi pada tahun 2013 dan 2014. Pada waktu itu, rerata harganya mencapai Rp 55 juta per meter persegi.

Akan tetapi, adanya pelunakan dalam beberapa tahun terakhir membuat rerata harga apartemen mewah di CBD turun menjadi sekitar Rp 52 juta per meter persegi.

Padahal lebih dari setengah dari total pasokan apartemen mewah di Jakarta berada di kawasan tersebut.

"CBD Jakarta menyumbang lebih dari setengah dari total pasokan apartemen mewah di Jakarta, dengan persentase sekitar 56 persen," kata Anton dalam laporan yang dikutip Kompas.com, Selasa (28/7/2020).

Sementara di luar area CBD, Jakarta Selatan mendominasi pasokan. Menurut Savills, rerata harga apartemen mewah di area ini sekitar Rp 48 juta per meter persegi pada tahun 2019.

"Sebagai kawasan yang populer untuk ekspatriat dan masyarakat kaya, akarta Selatan mendominasi pasokan yang ada di daerah Non-CBD, dengan menyumbang sebanyak 36 persen," ujar dia.

Sedangkan rerata harga apartemen mewah di Jakarta Barat dan Jakarta Utara terbilang lebh rendah dari kedua daerah sebelumnya.

Harga rata-rata pada tahun 2017 adalah sekitar Rp 27 juta per meter persegi dan relatif stabil hingga saat ini.

Pasokan rendah

Meski pada tahun 2017 dan 2019 terdapat beberapa proyek yang dikembangkan, namun Savills memprediksi pertumbuhan pasokan apartemen diperkirakan akan tetap rendah hingga tahun 2023.

Untuk itulah, Pemerintah membebaskan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) bagi hunian mewah yang nilainya di bawah Rp 30 miliar. Relaksasi ini dilakukan demi mendorong sektor properti.

Meski begitu, sejumlah pengembang asing turut berpartisipasi dalam pengembangan apartemen mewah di ibu kota.

Menurut Anton, para pemain asing ini tertarik untuk mengembangkan proyeknya di Jakarta karena sejumlah besar kalangan High Net Worth Individuals (HNWI). Para pemain asing tersebut antara lain:

  • Hong Kong Land yang mengembangkan Anandamaya Suites di area Sudirman
  • Pollux Properties dari SIngapura yang meluncurkan Pollux Sky Suites di Mega Kuningan
  • Tatemono Jepang yang mengembangkan Sun and Moon Dharmawangsa.

https://properti.kompas.com/read/2020/07/29/080000621/harga-apartemen-mewah-di-cbd-jakarta-turun-jadi-rp-52-juta-per-meter

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar