Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

RTRW Ganjal Pembangunan Properti, Ini Tanggapan Sofyan Djalil

Masalah pertama adalah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kerap berubah-ubah setelah izin dikeluarkan.

Menurut Totok, hal tersebut dapat menghambat proses sertfikasi tanah dan pembangunan proyek yang dijalankan.

"Ini banyak terjadi di seluruh Indonesia. Bahkan, ada yang sudah keluar Izin Mendirikan Bangunan (IMB), kemudian tata ruangnya berubah," kata Totok dalam webinar, Kamis (23/7/2020).

Oleh sebab itu, REI meminta kepastian hukum dan tidak diganggu lagi oleh pihak manapun, saat membangun di atas lokasi yang sudah memiliki izin usaha.

Pun jika terjadi perubahan peruntukkan ruang akibat Peninjauan Kembali (PK) dokumen Tata Ruang serta izin lokasi/sertipikat yang telah dimiliki pengembang.

Kemudian, Pemerintah juga diminta melibatkan REI selaku pelaku pembangunan dalam penyusunan RTRW.

Masalah kedua yang dikemukakan Totok adalah proses sertpikat tanah masih terkendala waktu dan biaya. 

Untuk mengatasi hal itu, REI meminta Pemerintah melakukan percepatan pengurusan pemecahan sertpikat tanpa adanya pungutan liar (pungli).

Lalu, REI juga meminta optimalisasi Program Sistematis Tanah Lengkap (PTSL) agar pendaftaran tanah dapat dipercepat. Dengan demikian, akan terjadi pengurangan gugatan kepemilikan tanah.

Pemerintah diminta untuk menyelaraskan pemahaman Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) di tiap kabupaten/kota.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan A Djalil mengutarakan, permasalahan RTRW utamanya banyak terjadi di daerah.

"Kita kan persetujuan substansi saja sampai di Jakarta. Saya ingin membuat supaya nanti tata ruang lebih partisipatif dalam menyusunnya," kata Sofyan.

Dengan demikian, menurut Sofyan, REI harus turut andil dalam penyusunan RTRW. Tidak hanya mengandalkan Bupati, Dinas Tata Ruang, dan Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda).

"RTRW dapat dibuat secara partisipatif," imbuh dia.

Bahkan, Sofyan akan mengajak Dirjen Tata Ruang untuk membentuk komite di daerah yang melibatkan banyak pihak.

"Bukan saja Pemerintah, tapi juga universitas dan stakeholders (pemangku kepentingan) yang lain," ujarnya.

Dengan begitu, RTRW akan mencerminkan kondisi yang ideal karena mendengarkan pendapat dari banyak pihak.

https://properti.kompas.com/read/2020/07/24/201138821/rtrw-ganjal-pembangunan-properti-ini-tanggapan-sofyan-djalil

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar