Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Nasib 6 Pencakar Langit Dunia Saat Corona, Ini Kabar Terbarunya...

Peruntukan bangunan-bangunan jangkung tersebut beragam, mulai dari perkantoran, residensial, maupun mixed-use.

Kendati demikian, rekor pencakar langit tertinggi dunia masih dipegang oleh Menara Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), dengan ketinggian 828 meter.

Lantas, apakah ada pencakar langit dunia lainnya yang sedang dibangun saat Pandemi Covid-19 dan mengalahkan rekor Burj Khalifa?

Berikut ini enam pencakar langit yang konstruksinya terus berlanjut.

1. Central Park Tower

Gedung pencakar langit ini dirancang dengan ketinggian 1.550 kaki atau sekitar 472 meter. 

Bangunan jangkung ini terletak di salah satu kompleks paling bergengsi di dunia, Billionaire's Row, New York, Amerika Serikat.

Pembangunan Central Park Tower telah dilakukan sejak tahun 2014 silam dan ditargetkan rampung pada tahun 2021.

Central Park Tower telah mencapai tahap l penutupan atap (topping off) pada tahun 2019 silam. 

Semenjak Pandemi Corona merebak di Amerika Serikat, pembangunan konstruksi pencakar langit ini sempat dihentikan sementara pada Maret lalu.

Gedung ini akan digunakan sebagai apartemen yang menyajikan pemandangan kota.

2. Yachthouse Residences Club

Brasil sedang melakukan pembangunan gedung pencakar langit setinggi 919 kaki atau sekitar 280 meter. 

Gedung tersebut diberi nama Yachthouse Residences Club dan dirancang 91 lantai.

Yachthouse Residences Club ini berada di resor pantai Balneário Camboriú, Brasil, Amerika Selatan.

Pencakar langit ini telah dimulai konstruksinya tahun 2014 dan ditargetkan rampung pada akhir tahun ini. 

Namun, pembangunannya harus dihentikan sementara karena adanya virus Corona yang mewabah di negara tersebut.

Dengan demikian penyelesaian pembangunan pun mundur menjadi tahun 2021 mendatang.

3. One Tower 

Gedung One Tower dirancang setinggi 405 meter dan dinobatkan sebagai pencakar langit tertinggi sedaratan Eropa.

One Tower berada di Moskow, Rusia, yang dirancang oleh arsitek lokal bernama Sergey Skuratov.

Gedung ini meliputi apartemen 104 lantai. Rinciannya, 3 lantai berada di bawah tanah dan 101 lantai di atas permukaan tanah.

One Tower akan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas seperti pusat kebugaran, kolam renang, kafe, dan restoran.

Ground breaking gedung ini telah dilakukan pada tahun 2008 silam dan baru terealisasi tahun 2019 akibat Rusia mengalami krisis ekonomi cukup hebat.

Rencananya, penyelesaian pembangunan gedung tersebut akan rampung pada tahun 2024 mendatang.

4. Iconic Tower

Tak mau ketinggalan, Mesir pun membangun gedung menjulang yang dirancang setinggi 385 meter.

Jika pembangunannya rampung, Iconic Tower akan dinobatkan sebagai gedung pencakar langit tertinggi se-Afrika.

Terletak di bagian Timur Kairo, Iconic Tower akan berisi perkantoran.

Pembangunannya bermula pada tahun 2019 dan ditargetkan rampung pada tahun 2023 mendatang.

Saat Pandemi Corona melanda, pembangunan Iconic Tower tetap dilanjutkan dengan mengikuti protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 secara ketat.

5. Merdeka PNB118

Negara serumpun Indonesia, Malaysia, tengah membangun gedung pencakar langit setinggi 644 meter yang terdiri dari 144 lantai.

Gedung tersebut dijadikan sebagai mixed-use, yang meliputi apartemen, perkantoran, dan hotel.

Pembangunan gedung tersebut dikerjakan sejak 2014 silam. Namun, pada Mei lalu, Malaysia harus menghentikan pekerjaan Merdeka PNB118 sementara karena adanya aturan lockdown (karantina wilayah).

Setelah rampung, gedung ini akan menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara dan menempati posisi ketiga setelah Shanghai Tower di China setinggi 556 meter. 

6. Australia 108

Australia juga tengah membangun gedung tinggi yang diberi nama Australia 108 dan terletak di Kota Melbourne.

Pekerjaan konstruksi telah dimulai pada 2015 dan ditargetkan selesai akhir tahun ini.

Gedung yang terdiri dari 100 lantai tersebut akan memunculkan cahaya terang secara otomatis melalui lampu LED ketika malam hari.

Menara Eiffel pun diketahui kalah tinggi dengan Australia 108 sejauh 19 meter dan mengalahkan tinggi gedung di sebelahnya Eureka Tower sejauh 22 meter.

https://properti.kompas.com/read/2020/06/19/202542221/nasib-6-pencakar-langit-dunia-saat-corona-ini-kabar-terbarunya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar