Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Mal Dibuka Kembali, Bangkitkan Ekonomi atau Menaikkan Kurva Pandemi?

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah negara tampak begitu lelah bertahan menghadapi Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Menyusul terpuruknya ekonomi yang dipicu anjloknya hampir seluruh sektor.

Tak ingin terus berada dalam ketidakpastian, beberapa di antara negara yang telah melewati kurva puncak pandemi pun mulai membuka kembali aktivitas ekonominya.

Pusat perbelanjaan, toko-toko stand alone, restoran, perkantoran, dan ruang publik lainnya dibuka secara bertahap dengan disertai penerapan protokol kesehatan.

Indonesia, meski kurva Pandemi masih terus menanjak, bakal mengikuti langkah sejumlah negara.

Pada 5 Juni dan 8 Juni, sejumlah sektor tertentu, seperti pusat-pusat perbelanjaan diizinkan untuk dibuka kembali. Hal ini disertai dengan protokol kesehatan yang ketat.

Namun, apakah pembukaan kegiatan ekonomi ini menjadi solusi untuk bangkit? Atau justru sebaliknya membuka peluang kenaikan penyebaran Covid-19?

Head of Research Jones Lang LaSalle Kanada Tim Sanderson mengungkapkan kekhawatirannya, bahwa pembukaan pusat perbelanjaan yang disertai protokol kesehatan ketat akan membuat masyarakat enggan untuk datang.

"Mereka akan kesal dan tidak pernah datang lagi karena penerapan protokol new normal. Ini adalah pengalaman yang saya khawatirkan," ujar Sanderson, seperti diktuip Kompas.com dari CBC, Kamis (28/5/2020).

Kekhawatiran lebih besar dirasakan pengelola mal. Mereka khawatir pembeli yang telah terbiasa berbelanja secara daring melalui platform e-commerce sejak awal pandemi mengubah persepsi untuk pergi ke mal karena banyak toko yang akan tetap tutup.

Apalagi, pengunjung mal juga diharuskan menjalani langkah-langkah protokol kesehatan baru yang akan mulai diterapkan.

Sanderson menekankan, pengelola telah mempersiapkan penerapan trafik satu arah di dalam mal, mengurangi atau menghilangkan tempat duduk, penerapan jaga jarak fisik dan hukuman bagi yang melanggar.

"Mungkin ini akan merugikan pengalaman belanja para pengunjung, tetapi ini sangat penting dan harus diterapkan karena skenario terburuknya, kebangkitan pandemi mungkin saja terjadi," ungkap Sanderson.

Jika setelah pembukaan mal berjalan namun kurva Pandemi justru menanjak, dan Pemerintah kembali memberlakukan pembatasan, akan semakin memperburuk keadaan.

"Jika semua orang telah membuka kembali bisnisnya, dan kemudian pemerintah harus menerapkan lockdown lagi. Saya pikir itu buruk untuk semua orang, tidak hanya kebiasaan belanja dan nasib ritel, tetapi berdampak kepada jiwa masyarakat dan segalanya," tutup Sanderson.

https://properti.kompas.com/read/2020/05/28/220208521/mal-dibuka-kembali-bangkitkan-ekonomi-atau-menaikkan-kurva-pandemi

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar