Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

[POPULER PROPERTI] Penghentian Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Berita tersebut menjadi topik paling populer di Kanal Properti Kompas.com sejak Minggu (1/3/2020).

Sejak saat itu, pemberitaan mengenai proyek kereta cepat selalu mendapatkan tempat khusus. Seperti Senin (2/3/2020) tulisan mengenai penghentian sementara proyek KCJB mendapatkan perhatian besar dari pembaca.

Selain progres dan penghentian proyek KCJB, berita lain mengenai Tol Manado-Bitung juga mengisi rubrik populer di Kanal Properti Kompas.com, berikut ulasan selengkapnya

Ahli setuju proyek KCJB dihentikan sementara

Pendapat tersebut datang dari Ketua Dewan Pembina Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Davy Sukamta.

"Daripada ngawur terus, memang sebaiknya dihentikan sementara. Karena tahun lalu kan sempat membuat pipa Pertamina terbakar," ujar Davy kepada Kompas.com, Minggu (1/3/2020).

Menurutnya, dari berbagai insiden tersebut, terutama jika menyebabkan kerugian seperti kemacetan, banjir, kebakaran, hingga perusakan lingkungan merupakan alasan yang tepat bagi Komite K2 untuk menghentikan sementara proyek KCJB.

Selain itu, proyek KCJB juga perlu dievaluasi. Davy menambahkan, jika Kementerian PUPR sudah menyetujui metode kerja KCJB maka pembangunan proyek bisa dijalankan kembali.

Berita selengkapnya dapat Anda baca pada tautan ini:

Kondisi terbaru Tol Manado-Bitung

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono memastikan Manado-Danowudu bisa ditempuh melalui Tol Manado-Bitung pada April 2020 mendatang.

Hingga saat ini, progres konstruksinya telah mencapai 81 persen. Adapun pembebasan lahannya mencapai 98,5 persen.

Jalan bebas hambatan itu dirancang sepanjang 39,9 kilometer dan menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) guna mengurangi biaya logistik dari Pelabuhan Internasional Bitung.

Artikel selengkapnya dapat dibaca di:

Alasan penghentian Proyek KCJB

Guru Besar Universitas Pelita Harapan Manlian Ronald Simanjuntak turut angkat bicara mengenai penghentian sementara Proyek KCJB.

Dalam tulisan Kolomnya, Ronald mengatakan ada beberapa alasan mengapa proyek tersebut baru dihentikan sekarang.

Beberapa di antaranya seperti proses konstruksi yang dianggap kurang memperhatikan kelancaran akses keluar-masuk jalan tol hingga buruknya sistem drainase di sekitar lokasi konstruksi.

Lalu apa alasan lainnya? Temukan jawabannya pada tautan berikut:

https://properti.kompas.com/read/2020/03/03/120000921/-populer-properti-penghentian-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar