Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Jati, Kayu Favorit Sepanjang Masa

Kayu jati merupakan material paling popular, dan dianggap berkelas, karena kuat, antirayap, dan mahal. 

Kayu jati berasal dari pohon jati yang diklasifikasikan dalam famili Verbenaceae. Jati hanya bisa tumbuh di iklim tropis.

Jati bisa tumbuh selama ratusan tahun dengan pertumbuhan maksimal setinggi 30-40 meter dan diameter 1-1,5 meter.

Di Indonesia, persebaran penanaman jati berpusat di Pulau Jawa. Meskipun jati juga ditanam di daerah-daerah lain seperti Bali, Nusa Tenggara, dan tumbuh terbatas di Sumatera dan Sulawesi, Jawa dianggap sebagai tempat paling baik karena iklim, suhu, dan kondisi tanah yang paling sesuai dengan jati.

Ini keunggulan Jati:

1. Tangguh dan Adaptif

Jati merupakan pohon dan jenis kayu yang terbukti kuat dan tahan terhadap segala kondisi cuaca saat sudah diubah menjadi furnitur.

Jati memiliki kemampuan untuk bisa hidup dalam kondisi panas ekstrem yang mengasah kekuatannya.

Satu kemampuannya yang dikenal adalah meranggas atau menggugurkan daunnya di musim kemarau yang sangat panas.

Kemampuan alami jati ini mengurangi penguapan selama musim kemarau dan menjaga kandungan air di akar dan batangnya. Hal ini karena pada musim kemarau tidak tersedia air di dalam tanah untuk diserap.

Dalam kondisi meranggas, jati akan tampak layu dan kering, padahal itu adalah mekanismenya bertahan hidup.

Saat musim hujan, barulah daun-daun jati akan tumbuh lagi dan berkembang seperti tanaman pada umumnya.

2. Material Furnitur Favorit Indonesia dan Dunia

Saat diekstraksi menjadi kayu, jati memiliki karakteristik yang kuat, tahan lama, antilapuk, antirayap, dan eksotis dengan guratan-guratan serat dan vernis yang berkilauan.

Harganya pun menjadi mahal karena waktu pertumbuhan yang lama. Jati dengan kondisi yang baik paling tidak mesti tumbuh selama 20 tahun atau lebih untuk bisa memiliki karakteristik yang disebutkan sebelumnya.

Jati juga menjadi komoditas yang dicari di pusat-pusat kerajinan kayu. Jepara adalah yang paling terkenal, diikuti Bojonegoro, Blora, dan beberapa daerah lain di Pulau Jawa.

Bukan hanya diminati dan menghiasi rumah-rumah di dalam negeri, jati pun bertransformasi menjadi komoditas untuk ekspor yang dilakukan pengusaha-pengusaha kayu jati, yang seringkali juga disebut kayu emas ini.

3. Kayu Jati Sebagai Investasi

Dengan harganya yang mahal, ada orang-orang yang mengerti industri kayu dan memilih jati untuk menjadi bisnis utamanya atau bahkan investasi untuk dirinya dan keluarga.

Dengan harga bibit yang relatif murah, terutama bila dibandingkan dengan hasil penjualan yang bisa didapat, jati dijadikan instrumen investasi.

Anda hanya perlu mengerti lebih dalam sistem budidayanya serta legalitas jati untuk dipelihara dan nantinya dijual.

Industri jati dikelola dan diawasi oleh Perum Perhutani yang mewajibkan penanam, penjual, dan pengusaha jati untuk mengikuti aturan-aturan yang dibuat untuk melindungi penjual dan pembeli dan mencegah risiko pencurian dan penyelundupan.

4. Pemanfaatan Jati sebagai Furnitur

Sebagai perabot dan furnitur, jati yang sudah diolah hampir bisa dijadikan apa saja. Mulai dari kusen pintu, jendela, dekorasi ukiran, meja makan, kursi, rangka tempat tidur, nakas, meja rias, dan perabot-perabot lainnya yang terbuat dari kayu.

Pengolahan dan perakitan jati menjadi furnitur pun tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan diperlukan tenaga ahli dan pengrajin.

Faktor ini juga yang membuat harga jati bernilai tinggi. Craftsmanship atau keahlian dari pengrajin jati ditambah dengan waktu tumbuh yang lama dan legalitas yang kompleks membuat nilai kayu jati terus-menerus naik setiap tahunnya.

Walaupun begitu, memiliki pohon jati ataupun furnitur dari jati akan selalu menguntungkan karena nilainya yang berharga, keindahannya yang eksotis, dan kekuatannya yang tidak bisa dikalahkan oleh jenis kayu lainnya.

https://properti.kompas.com/read/2019/12/01/120000221/jati-kayu-favorit-sepanjang-masa

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke