Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Ada 6.621 Pelanggaran Tata Ruang, Ini Langkah Kementerian ATR/BPN

Sementara untuk tahun 2019, audit tata ruang dilakukan dengan pendekatan kawasan di 31 kawasan prioritas.

Demikian hasil audit tata ruang yang dilakukan Direktorat Jenderal Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN Surya Tjandra mengatakan, audit ini memberi identifikasi adanya pelanggaran, menemukan fakta-fakta adanya regulasi atau tidak.

Dalam catatan Surya, pelanggaran terbesar dilakukan oleh pengembang terkait perizinan untuk pengembangan properti.

Contohnya, perizinan hotel 14 lantai dibangun 17 lantai. Kemudian properti yang dibangun di wilayah yang berbahaya, dan lain sebagainya.

Namun, secara kuantitas, kasus pelanggaran terbanyak menyangkut warga yang membutuhkan lahan.

"Akan tetapi, tidak selamanya warga bisa disalahkan karena keterbatasan lahan. Ini perlu dukungan Pemerintah Daerah (Pemda), dan Kementerian PUPR membantu kami mengatasi pelanggaran tata ruang ini," tutur Surya kepada Kompas.com, Kamis (7/11/2019).

Oleh karena itu, Surya mengungkapkan, mulai tahun ini dan tahun 2019, akan ada keputusan pihak mana yang kena sanksi pidana atau administratif, mana yang cukup dengan teguran atau perintah bongkar.

Surat keputusan ini akan berlaku bagi semua pihak, termasuk instansi pemerintahan kementerian dan lembaga yang melanggar pemanfaatan tata ruang. Terlebih sektor swasta dalam hal ini pengembang properti.

"Ini akan dilaksanakan melalui kerja sama dengan Pemda, dan Kepolisian," imbuh Surya.

Untuk diketahui, audit tata ruang dilakukan dalam rangka mewujudkan tertib tata ruang melalui mekanisme pengendalian dan pengawasan, dan penertiban pemanfaatan ruang.

Untuk menindaklanjuti hasil audit tata ruang ini, Kementerian ATR/BPN memfasilitasi penertiban dan wasmatlitrik (pengawasan, pengamatan, penelitian, dan pemeriksaan).

Selain itu, Kementerian ATR/BPN juga telah membentuk perangkat penegak hukum dalam penertiban pemanfaatan ruang yang mencalup 646 penyidik pegawai negeri sipil bidang penataan ruang yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia.

https://properti.kompas.com/read/2019/11/07/135857621/ada-6621-pelanggaran-tata-ruang-ini-langkah-kementerian-atr-bpn

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar