Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Tano Ponggol Bakal Disulap Jadi "Terusan Suez" Indonesia

Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Hadi Sucahyono menjelaskan, pengembangan water front city dilakukan empat direktorat, yaitu Bina Marga, Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Penyediaan Perumahan.

“Jadi SDA (melebarkan dan memperdalam) alurnya, jembatan dan jalan di Bina Marga, Cipta Karya (masuk dalam pengembangan water front city), dan Perumahan melalui program BSPS,” kata Hadi menjawab Kompas.com, Rabu (31/7/2019).

Pekerjaan yang tengah dilakukan yaitu melebarkan dan memperdalam alur Tano Ponggol, yaitu dari lebar 25 meter dan kedalaman 3 meter menjadi lebar 80 meter dan kedalaman 8 meter.

Sejauh ini, pekerjaan yang menelan anggaran Rp 313 miliar tersebut baru mencapai 74 persen dan ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.

Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal SDA Jarot Widyoko mengungkapkan, sebelum dilebarkan hanya kapal kayu berkapasitas 15 orang yang bisa melewati alur tersebut.

Itu pun bila pada saat kondisi air surut, maka kapal itu harus ditarik untuk dapat melewatinya.

“Jadi kalau saya membayangkan alur ini seperti Terusan Suez, bedanya kalau Suez itu kan laut dengan laut ini danau dengan danau,” kata Jarot. 

“Kapal wisata mulai dari Parapat bisa keliling dan saya kira kanan kiri ini nanti bisa berkembang seperti apa yang disampaikan Pak Kaba, menjadi tempat destinasi untuk kuliner. Jadi tidak di Parapat saja,” imbuh Jarot.

Sementara itu untuk pembangunan Jembatan Tano Ponggol akan dilaksanakan setelah pekerjaan pendalaman alur rampung. Nantinya, jembatan tersebut akan dirancang sepanjang 1 kilometer. 

Menurut Kepala BBPJN II Medan Sumatera Utara Ditjen Bina Marga Selamet Rasidi panjang jembatan yang akan dibangun memang lebih panjang dibandingkan lebar alur.

Hal itu disebabkan yang dibangun bukan hanya jembatan utama semata, tetapi juga jembatan pendekat.

“Diharapkan konstruksinya dapat dilaksanakan pada tahun 2020-2021,” kata Selamet.

Sementara untuk pengembangan water front, menurut Direktur Pengembangan Kawasan Permukiman Ditjen Cipta Karya Didiet A Akhdiat, akan dilakukan di atas lahan seluas 80 hektar dengan alokasi anggaran yang disiapkan sebesar Rp 105 miliar. 

“Direncanakan pekerjaan konstruksinya akan dimulai pada tahun 2020, saat ini konsep desainnya telah selesai," sebut Didiet.

https://properti.kompas.com/read/2019/08/01/100000421/tano-ponggol-bakal-disulap-jadi-terusan-suez-indonesia

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar