Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Kiat Singapura Bereskan Masalah Perumahan

Tak hanya itu, tingkat kepemilikan hunian, Singapura juga termasuk sebagai salah satu yang tertinggi di dunia, yakni sebesar 90,9 persen pada 2016. Jumlah ini hanya kalah dari Rumania yang memiliki tingkat hunian hingga 96 persen.

Sejak mendapatkan kemerdekaannya pada 1959, Singapura berjuang dalam mengatasi berbagai krisis, termasuk salah satunya adalah masalah perumahan.

Dikutip dari situs hdb.gov.sg, sebelumnya pemerintah Singapura hanya mampu menyediakan 20.907 unit dalam jangka waktu 12 tahun, yakni dari 1947 hingga 1959.

Jumlah ini tentu kurang jika dibandingkan dengan penduduk yang melebihi 1,6 juta jiwa pada saat itu.

HDB merupakan kepanjangan tangan Kementerian Pengembangan Nasional Singapura dalam mengurus persoalan perumahan.

Pembentukan badan ini seolah menjadi titik balik Pemerintah Singapura dalam mengatasi krisis perumahan.

Dalam video yang diunggah Bloomberg, salah satu contohnya adalah ketika terjadi kebakaran hebat yang melanda wilayah Bukit Swee pada 25 Mei 1961.

Kebakaran tersebut menghanguskan area seluas 400.000 meter persegi dan membuat lebih dari 16.000 orang kehilangan rumah.

Kehadiran HDB telah sukses menghilangkan permukiman kumuh dan merelokasi penghuninya ke blok-blok apartemen kecil namun bersih dan layak dalam waktu satu tahun.

Setelah itu, HDB mulai membangun permukiman baru di lahan bekas kebakaran. Dalam waktu lima tahun, HDB berhasil membangun lebih dari 54.000 unit apartemen, serta merumahkan lebih dari 400.000 orang.

Untuk mengatasi masalah kekurangan dana, pemerintah kemudian mengenalkan skema tabungan untuk meringankan pembayaran uang muka.

Tabungan ini awalnya ditujukan bagi pensiun, namun kini semua orang dapat memanfaatkan pinjaman.

Hal ini kemudian dianggap sebagai salah satu kesuksesan pemerintah dalam mengatasi kekurangan perumahan.

HDB

HDB merupakan lembaga nirlaba yang memiliki dua fungsi utama yakni untuk mengelola permintaan dan pasokan.

Selain itu, HDB juga berfungsi sebagai pengembang, pembangun serta pemelihara aset atas unit hunian yang telah didirikan.

Dari sisi permintaan, HDB mendapatkan dana dari pemerintah dengan bunga 2,5 pesen per tahun selama 20 tahun sesuai dengan masa pinjaman.

Hal ini tentu membuat Pemerintah Singapura tidak kehilangan hak atas kepemilikan tanahnya.

Ada pun jenis properti yang dikelola oleh HDB di antranya adalah flat, berupa unit-unit studio tipe satu kamar hingga lima kamar, dan eksekutif.

Menurut catatan Kompas.com, HDB juga telah berperan dalam membantu menjaga harga dan biaya perumahan di Singapura lebih masuk akal dibandingkan harga di kota utama China, Hongkong, maupun Tokyo.

Lebih murah

Program perumahan yang digagas HDB tidak hanya ditujukan bagi masyarakat menengah ke bawah, namun juga bagi kalangan umum.

Bahkan harganya bisa 20 pesen sampai 30 persen lebih murah dibanding perumahan umum yang ditawarkan.

Selain itu, pemerintah juga menyediakan tabungan untuk kebutuhan perumahan.Tabungan ini awalnya ditujukan hanya untuk pensiunan. Namun kini, semua orang dapat

Meningkat

Sejak saat itu, HDB mengklaim telah membangun lebih dari 1 juta unit apartemen. Persentase masyarakat yang tinggal di perumahan rakyat atau public housing telah meningkat dari sembilan persen pada 1970 menjadi 82 persen pada 2016.

Sementara persentase kepemilikan hunian juga turut meningkat dari 29 persen pada 1970 menjadi 90,9 persen pada 2016.

Meski terkenal sebagai dengan perumahan yang terbaik di dunia, namun skema ini juga digunakan pemerintah sebagai kontrol sosial.

Pemerintah memastikan seluruh ras (Melayu, China, dan India) di Singapura berada di dalam satu blok hunian HDB. Hal ini dilakukan untuk mencegah terbentuknya kantong-kantong rasial di setiap perumahan.

https://properti.kompas.com/read/2018/11/06/141705521/kiat-singapura-bereskan-masalah-perumahan

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke