Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Infrastruktur Masif Belum Tentu Sesuai Konsep Antisipasi Bencana

JAKARTA, KOMPAS.com – Segala macam regulasi yang mengatur tentang kelayakan mendirikan bangunan di suatu daerah rawan bencana sudah ada di Indonesia. Namun, penerapan aturan tersebut tidak berjalan dengan semestinya.

Padahal peraturan perlu ditegakkan dan dilaksanakan mengingat begitu masifnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, seperti jalan, jembatan, dan perumahan.

Kepala Sub-Direktorat Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah II Badan Pertanahan Nasional (BPN) Andi Renald Riandy mengatakan, gencarnya pembangunan infrastruktur belum tentu sesuai dengan konsep antisipasi dan ketahanan menghadapi bencana alam.

Semakin banyak pembangunan fisik apa pun di suatu daerah, akan semakin rawan pula daerah itu mengalami kerusakan akibat gempa bumi.

“Pembangunan infrastruktur secara masif apakah sudah sesuai dengan konsep mitigasi dan adaptasi yang komprehensif? Karena pembangunan itu seperti memberi umpan,” kata Andi dalam diskusi tentang bencana alam yang diadakan di Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (8/10/2018).

Selain itu, ujarnya, pembangunan juga banyak dilakukan di wilayah Pulau Jawa yang seharusnya bisa disebar ke daerah lain, misalnya ke Sumatera atau Kalimantan.

Pernyataan itu menjadi peringatan karena begitu banyaknya sesar atau patahan aktif yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia.

“Ada 295 patahan aktif tersebar di Indonesia, misalnya di Jawa ada Sesar Lembang, Baribis, dan Cimandiri. Juga Palu Koro di Sulawesi Tengah yang baru terjadi,” ucap Andi.

Menurut dia, pergerakan sesar itu bisa terjadi kapan pun dan di mana pun, meski lokasi dan waktu terjadinya sulit diprediksi secara detail.

Maka dari itu, harus dipastikan infrastruktur yang dibangun berada di wilayah aman dan tahan terhadap guncangan gempa. Hal itu tidak boleh diabaikan karena bisa berakibat timbulnya korban jiwa dan kerusakan bangunan.

“Sesar itu tinggal menunggu waktu. Pertanyaannya, infrastruktur kita aman atau enggak? Apa kita masih melakukan pembiaran?” tegasnya.

Dia menambahkan, berbagai bentuk aturan tentang tata ruang sudah dibuat dengan cukup terperinci, baik tingkat nasional maupun daerah.

Saat ini diharapkan pelaksanaannya harus tegas untuk mencegah bermacam kemungkinan yang tidak diinginkan.

https://properti.kompas.com/read/2018/10/09/140222321/infrastruktur-masif-belum-tentu-sesuai-konsep-antisipasi-bencana

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar