Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

"Crazy Rich Indonesians" Belanja Properti di Singapura hingga Sydney

Crazy Rich Asian disebut-sebut sebagai film Hollywood pertama dalam seperempat abad terakhir dengan semua pemainnya keturunan Asia.

Di Indonesia, "wabah" Crazy Rich Asians yang dipopularkan dengan tagar #crazyrichasians disambut antusias. Tak hanya pratinjau dari berbagai media, juga warganet pengguna media sosial. 

Bahkan, sejumlah warganet pengguna twitter, membuat tagar tandingannya yakni #crazyrichsurabayans.

Tagar ini mencuitkan betapa orang Surabaya tak kalah kaya dibanding yang digambarkan dalam film dengan bintang Michelle Yeoh tersebut.

Namun bedanya, dalam kehidupan nyata (setidaknya menurut kesaksian warganet), kekayaan orang Surabaya tak ditonjolkan secara kasat mata.

Mafhum jika orang Surabaya punya motor gede (moge) lima buah di rumahnya. Padahal harga satu moge bisa membeli dua hingga tiga mobil Avanza.

Menurut kesaksian warganet, ada seorang ibu yang membeli rumah di Manyar, Kutoarjo seharga Rp 24 miliar. 

Ibu itu dengan enteng menganggap murah rumah puluhan miliar tersebut dengan kata-kata enteng, "Murah. Cuma Rp 24 miliar".

Jumlah orang kaya Indonesia

Siapa sebetulnya yang pantas mendapat sematan Crazy Rich Indonesians?

Associate Director Research and Consultancy Knight Frank Indonesia Hasan Pamudji menuturkan, Crazy Rich Indonesians adalah orang-orang dengan finansial mapan, dan anak muda, untuk tidak disebut generasi milenial, keturunan kalangan superkaya atau UHNW tadi.


Kekayaan mereka, tak cuma warisan orang tua, juga hasil berbisnis, dan berinvestasi di segala sektor, terutama keuangan, perbankan, dan properti.

"Jumlah orang kaya di Indonesia tahun 2018 ini diperkirakan sekitar 22.918 orang," ungkap Hasan menjawab Kompas.com, Selasa (18/9/2018).

Rinciannya, sebanyak 21.526 orang memiliki kekayaan di atas 5 juta dollar AS atau ekuivalen Rp 74,3 miliar, 1.314 orang dengan aset di atas 50 juta orang atau setara Rp 743,3 miliar, dan 78 orang dengan kekayaan di atas 500 juta dollar AS atau Rp 7,4 triliun.

Aset mereka tak hanya dalam bentuk uang tunai, dan valuta asing, juga aset tak bergerak macam rumah, apartemen, pabrik, kantor, dan tanah.

Mereka juga belanja rumah dan apartemen di kota-kota tersebut plus Sydney, dan Singapura yang secara tradisional menjadi tujuan investasi orang super tajir Indonesia.

"Tujuan mereka membeli properti di luar negeri ini adalah sebagai wealth preservation untuk mengantisipasi nilai tukar Rupiah yang terus terdepresiasi," ujar Hendra.


Selain itu, kata Hendra, properti di mancanegara itu dibeli untuk dijadikan rumah kedua (second home), rumah untuk menghabiskan masa tua, dan juga untuk anak-anak mereka yang sekolah dan menetap di sana.

"Mereka cenderung membeli apartemen mewah di pusat kota agar gampang beraktivitas," tambah dia.

Di Singapura, kawasan incaran orang kaya Indonesia adalah Distrik 9, 10, dan 11. Distrik-distrik tersebut merupakan kawasan elite, salah satu pusat bisnis dan keuangan dunia.

Di distrik inilah terdapat sepenggal jalan yang terkenal seantero jagat raya yakni Orchard Road. 

Namun, kata Hendra, hal itu bukan masalah. UHNW Indonesia tetap membelinya. Ada yang beli satu unit, dua unit, atau bahkan satu lantai.

Demikian halnya dengan Sydney. GM Strategic and Corporate Communication Crown Group Bagus Sukmana menuturkan, properti yang dibeli orang kaya Indonesia di ibu kota New South of Wales itu tak bisa dibilang murah.

Pasalnya, lokasinya pun mentereng, macam  V by Crown Group, Skye by Crown Group, Arc by Crown Group, Oasis by Crown Group, Infinity by Crown Group, Waterfall by Crown Group sampai Eastlakes Live.

Harganya serentang 700.000 dollar Australia hingga 1,2 juta dollar Australia, atau jika dikonversikan menjadi Rp 7,5 miliar sampai Rp 12,8 miliar.

"Harga tersebut dipatok untuk apartemen tipe studio dan dua kamar tidur," kata Bagus. 

Hingga Selasa (18/9/2018), jumlah orang kaya Indonesia yang membeli apartemen di Sydney sebanyak 110 orang.

Bagaimana dengan kecenderungan mereka berbelanja properti di dalam negeri?

Sebut saja Keraton at The Plaza di kompleks Plaza Indonesia. Properti berikutnya yang menjadi incaran adalah Le Parc di Thamrin Nine, dan kemudian District 8 di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD). 

"Sementara kawasan Pondok Indah, Widya Chandra, Menteng, masih ditempati orang-orang kaya generasi senior," cetus Hendra.

Sedangkan di Surabaya, Crazy Rich Surabayans  cenderung memilih kawasan barat karena memang sedang tren. Selain itu, orientasi pengembangan Pemerintah Kota Surabaya juga ke arah barat.

Generasi tua Surabaya masih menjadikan kawasan timur yang nota bene sarat orang-orang kaya lama, sebagai tempat menghabiskan masa pensiun. 

Selain Jakarta dan Surabaya, Bali pun tak lepas dari lirikan mereka. Bali dilirik karena potensial memberikan capital gain besar, karena reputasinya sebagai destinasi wisata nomor wahid versi Trip Advisor 2017.

Biarpun duitnya segunung, tapi mereka juga masih mengharapkan gain  dari investasi properti-properti tersebut.

Karena itu, tak semua dari UHNW tadi beli properti mahal dengan cara kontan, melainkan tunai bertahap dan juga kredit KPR/KPA.

Yang namanya businessman ya harus untung. Mereka juga melihat prospek capital gain. Kalau bisa bayar bertahap, kenapa tidak, selama hal itu menguntungkan.

https://properti.kompas.com/read/2018/09/18/211043121/crazy-rich-indonesians-belanja-properti-di-singapura-hingga-sydney

Terkini Lainnya

Penyaluran FLPP Capai 194.360 Unit hingga Oktober 2026, Total Rp 24,22 Triliun
Penyaluran FLPP Capai 194.360 Unit hingga Oktober 2026, Total Rp 24,22 Triliun
Berita
Tanah Warisan Masih Girik? Lurah Bisa Bantu Telusuri Riwayatnya
Tanah Warisan Masih Girik? Lurah Bisa Bantu Telusuri Riwayatnya
Tips Properti
Sebelum ke BPN, Pemilik Tanah Perlu Urus Dokumen Ini Lewat Lurah
Sebelum ke BPN, Pemilik Tanah Perlu Urus Dokumen Ini Lewat Lurah
Tips Properti
Mengenal Wuwungan, Hiasan Unik pada Atap Rumah Orang Jawa
Mengenal Wuwungan, Hiasan Unik pada Atap Rumah Orang Jawa
Arsitektur
Siapa Pemilik 3.116 Kilometer Jalan Tol Indonesia? Ini Petanya
Siapa Pemilik 3.116 Kilometer Jalan Tol Indonesia? Ini Petanya
Berita
Kuasai 42 Persen Market Share, Jasa Marga Masih Raja Jalan Tol Indonesia
Kuasai 42 Persen Market Share, Jasa Marga Masih Raja Jalan Tol Indonesia
Berita
Simpan Girik Puluhan Tahun Tapi Belum Sertifikat? Ini Bahaya dan Solusinya
Simpan Girik Puluhan Tahun Tapi Belum Sertifikat? Ini Bahaya dan Solusinya
Tips Properti
Pinjam KUR Perumahan di Bawah Rp 100 Juta Tak Perlu Jaminan
Pinjam KUR Perumahan di Bawah Rp 100 Juta Tak Perlu Jaminan
Berita
Awas Tanah Anda Diincar Orang! Segera Petakan Sendiri Lewat HP
Awas Tanah Anda Diincar Orang! Segera Petakan Sendiri Lewat HP
Tips Properti
Mundur 10 Tahun, Akankah Janji Indonesia Bebas ODOL 2027 Terealisasi?
Mundur 10 Tahun, Akankah Janji Indonesia Bebas ODOL 2027 Terealisasi?
Berita
Neverland Ranch, Rumah Michael Jackson yang MIrip Dunia Fantasi
Neverland Ranch, Rumah Michael Jackson yang MIrip Dunia Fantasi
Arsitektur
Banyak yang Belum Tahu: Bayar PBB Bertahun-tahun Tak Bikin Anda Jadi Pemilik Sah Tanah
Banyak yang Belum Tahu: Bayar PBB Bertahun-tahun Tak Bikin Anda Jadi Pemilik Sah Tanah
Tips Properti
Potret Rumah Broto di Kota Bambu Selatan, Bangunan Rapuh Dihuni 13 Orang
Potret Rumah Broto di Kota Bambu Selatan, Bangunan Rapuh Dihuni 13 Orang
Berita
Bukan Cuma Lurah, Ternyata Lansia Juga Punya Andil Bikin Jakarta Bersih
Bukan Cuma Lurah, Ternyata Lansia Juga Punya Andil Bikin Jakarta Bersih
Berita
Jangan Lagi Naik Eskalator Mati! Pakar Ungkap Risiko Fatalnya
Jangan Lagi Naik Eskalator Mati! Pakar Ungkap Risiko Fatalnya
Konstruksi
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar