Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Berita Menarik: Toko Apple Bangkrut hingga Kondisi Jalur Mudik

JAKARTA, KOMPAS.com - Tsunami ritel tak hanya melanda produk ritel seperti pakaian, makanan dan furnitur. Bahkan produk teknologi sekaliber Apple pun terkena dampaknya.

Kabar soal tutupnya toko Apple di Atlantic City, AS, menjadi salah satu berita terpopuler di kanal properti Kompas.com, Minggu (27/5/2018).

Selain itu, kondisi terkini soal jalur mudik di Tol Batang-Semarang juga tak luput dari perhatian.

Berikut informasi lengkap soal kabar terpopuler sepanjang kemarin:

1. Apple tutup toko

Kabar nelangsa industri ritel datang silih berganti. Bukan hanya toko pakaian, makanan, dan furnitur, bahkan pebisnis teknologi wahid pun mesti melepas aset propertinya.

Kali ini, giliran raksasa digital dunia Apple menutup tokonya. Sebagai peritel kelas akbar, Apple tak kuasa menahan terjangan tsunami ritel.

Sebagaimana diwartakan Bloomberg, Sabtu (26/5/2018), Apple resmi mengumumkan ambruknya gerai ritel mereka di Atlantic City, New Jersey, Amerika Serikat.

Sebanyak 52 karyawan terkena efek stop beroperasinya toko tersebut.

Selengkapnya Toko Apple Gulung Tikar

2. Resmi meluncur, proyek multifungsi Rp 2 triliun di Tangerang

Termotivasi penjualan maksimal proyek-proyek sebelumnya, Triniti Land melansir Collins Boulevard di Tangerang, Banten, Sabtu (26/5/2018).

Proyek dengan estimasi gross development value (GDV) senilai Rp 2 triliun ini dikembangkan dengan konsep multifungsi.

Di dalamnya mencakup tiga menara apartemen dengan total 2.400 unit, satu menara perkantoran, hotel bintang empat, dan lifestyle plaza.

Menjawab Kompas.com, Founder Triniti Land Bong Candra mengatakan, pasar apartemen di Tangerang, dan Tangerang Selatan, terutama kawasan Gading Serpong sangat potensial.

Selanjutnya baca ini Resmi Meluncur, Proyek Multifungsi Rp 2 Triliun di Tangerang

3. Jalan layang lengkapi terminal Bandara Ahmad Yani

Jalan layang sepanjang 1,2 kilometer tengah disiapkan untuk menunjang akses menuju terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuldjono mengatakan, jalan layang itu akan dibangun Kementerian PUPR tahun ini jika desainnya telah rampung.

“Kalau desain selesai, tahun ini mulai dibangun. Jalan layang ini empat lajur agar akses lebih cepat dan langsung menyambung ke bandara. Ini jalan khusus ke bandara,” kata dia, Minggu (27/5/2018).

Basuki menjelaskan, pembangunan jalan layang merupakan usulan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Rimciannya Jalan Layang Lengkapi Terminal Baru Bandara Ahmad Yani Semarang

4. Sejumlah titik di Tol Pemalang-Batang masih tanah merah

Sejumlah titik di jalan tol yang akan dibuka fungsional saat lebaran nanti masih berupa tanah merah. Meski demikian, pengelola jalan tol, PT Pemalang-Batang Toll Road (PBTR) memastikan akan membangun lapisan lean concrete agar dapat dilalui dengan nyaman oleh pemudik.

Tanah merah ini terutama bisa dijumpai pada pekerjaan Paket 3. Panjangnya kurang lebih sekitar 3 kilometer.

Secara keseluruhan, panjang jalan Paket 3 ini mencapai 17,8 kilometer. Pekerjaan konstruksi jalan ini dipegang oleh PT Sumber Mitra Jaya (SMJ).

Namun, 5 kilometer pekerjaan konstruksinya dibantu pekerjaannya oleh PBTR.

Selengkapnya  Beberapa Titik Masih Tanah Merah di Tol Fungsional Pemalang-Batang

5. Krapyak dan Salatiga berpotensi macet parah saat mudik

Anggota Komisi VI DPR RI Juliari Batubara meminta pemerintah memperhatikan potensi kemacetan parah saat mudik Lebaran 2018, terutama di wilayah Jawa Tengah.

Ada dua titik yang perlu diantisipasi yaitu exit toll Krapyak di Kota Semarang, dan exit toll Salatiga.

“Krapyak itu perlu diantisipasi karena ada tambahan jalur baru dari Batang. Itu pasti akan terjadi bottleneck di sana jadi perlu rekayasa. Lalu keluar Salatiga itu jalannya kecil sekali,” ujar Juliari kepada Kompas.com, saat kunjungannya di Semarang, Minggu (27/5/2018).

Dia menuturkan, pemerintah harus sejak dini mengantisipasi potensi titik kemacetan baik di jalan tol yang sudah operasional maupun masih fungsional. Selain itu, pemerintah harus tetap memperhatikan potensi kemacetan di jalan nasional pantai utara (pantura) Jawa.

Baca kelanjutannya Krapyak dan Salatiga, Potensial Macet Parah Saat Mudik

https://properti.kompas.com/read/2018/05/28/120451921/berita-menarik-toko-apple-bangkrut-hingga-kondisi-jalur-mudik

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar