Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Waspada, Ruas-ruas Macet Jalur Mudik 2018

Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mendapat bagian pengamanan sepanjang jalur mudik untuk mengantisipasi kemacetan lalu lintas.

Menurut Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Royke Lumowa, ada dua target untuk tahun ini. Target pertama yaitu kelancaran yang lebih baik, artinya kemacetan harus bisa lebih ditekan. Target kedua yaitu keselamatan yang lebih terjamin.

“Tahun ini pengamanan lebih sulit dari tahun lalu karena tahun lalu lancar. Dengan tersambungnya jalan tol sepanjang Jakarta ke Surabaya membuat masyarakat berbondong-bondong lewat jalan tol,” ucap Royke Lumowa saat memaparkan laporannya dalam Diskusi Panel V “Kesiapan Pengamanan Arus Mudik dalam Rangka Menghadapi Bulan Ramadhan dan Lebaran Tahun 2018” di Auditorium Lemdiklat Polri, Jakarta, Jumat (4/5/2018).

Maka dari itu, kata Royke, pihaknya terus menyosialisasikan agar masyarakat tidak cuma lewat jalan tol, tetapi juga jalan arteri.

Mengenai titik kemacetan, menurut dia, yang cukup krusial saat mudik nanti terjadi di Tol Cikampek.

“Pasti akan terjadi kepadatan karena ada pengerjaan yang mengganggu volume jalan sehingganya kapasitas berkurang, misalnya di titik tertentu di Kilometer 10, 16, 32, dan seterusnya,” jelas Royke.

Untuk itu, upaya bersama dengan Kementerian PUPR, PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan instansi terkait akan dilakukan untuk menghilangkan bottleneck tersebut.

Kemacetan juga diprediksi terjadi di Gandulan, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, karena animo masyarakat ke Semarang dan Surabaya cukup tinggi sehingga akan ada antrean panjang.

Begitu pula di Semarang, tambah Royke, ada jalan tol yang tersambung sampai ke Solo dan Jawa Timur, tetapi ada pintu tol Manyaran yang diperkirakan ada antrean kendaraan.

Kemudian di Pasar Tonjong, Karangsawah, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, juga menjadi ancaman kemacetan karena ada penyempitan jalan.

“Beberapa rest area di Tol Cipali dan Cikampek juga akan ada kepadatan. Tahun lalu beberapa rest area di Cipali jadi hambatan saat arus balik, padahal saat arus mudik tidak masalah,” tutur Royke.

Selain itu, di jalur Nagrek, Limbangan, Malangbong, dan seterusnya juga rawan kemacetan.

Soal kecelakaan, dia menambahkan, semua Polda akan terlibat. Tahun lalu, ada sekitar 3.000 kecelakaan. Jumlah tertinggi di Polda Jawa Timur, yaitu 924 kali.

Adapun mengenai korban kecelakaan, tahun 2017 terdapat 742 korban meninggal saat arus mudik. Secara rinci, yang tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat, yaitu 171 meninggal.

“Jadi, tahun ini jumlah korban harus bisa ditekan. Harus bisa selamatkan nyawa,” pungkas Royke.

https://properti.kompas.com/read/2018/05/04/210217121/waspada-ruas-ruas-macet-jalur-mudik-2018

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar