Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Di Negeri Asalnya, Bisnis "Debenhams" Kian Remuk

Di Indonesia, Debenhams memang telah memutuskan pamit per akhir 2017 lalu. Namun, peritel itu sejatinya masih eksis di negeri asalnya, yaitu Inggris.

Meskipun, kondisi bisnisnya kian lama kian redup. Musim panen liburan akhir tahun saja tak mampu dilewati dengan baik oleh Debenhams.

Penjualan toserba itu melorot 2,6 persen dalam 17 pekan terakhir hingga akhir tahun lalu. Laba pun tergerus.

Pihak Debenhams dalam pernyataan resminya menyebut, capaian keuntungan yang diraih 30 persen lebih rendah dari estimasi. Keuntungan Debenhams pada 2017 dilaporkan sekitar 55-65 juta Poundsterling.

Setali tiga uang dengan kondisi saham mereka. Saham Debenhams anjlok 15 persen per akhir 2017, menyentuh level terendah sejak krisis keuangan 2008 silam.

Data-data di atas menjadi alarm keras bagi Debenhams. Perjuangan bertahan menemui jalan yang semakin terjal.

Diskon besar yang digelar Debenhams pun tak lagi mampu menggoda pembeli untuk sekadar mampir ke toko itu.

Terkait kondisi sulit perusahaannya, Chief Executive Officer Debenhams Sergio Bucher angkat bicara.

Bucher mengatakan, Debenhams bakal semakin kencang mempercepat rencana pengurangan karyawan melalui penyederhanaan struktur organisasi.

Menurut dia, langkah itu amat strategis untuk menghemat biaya operasional perusahaan sebesar 10 juta Poundsterling tahun ini.

"Kondisi pasar sedemikian menantang. Kami bakal terus menggalakkan promosi di berbagai produk musiman dan kami juga merespons agar lebih kompetitif bagi para pelanggan,” tutur Bucher, seperti dilaporkan The Guardian, Jumat (5/1/2018).

Richard Chamberlain dari lembaga analis RBC Capital Markets mengatakan, permasalahan yang dihadapi Debenhams bukan hanya akibat berubahnya tren pasar.

“Selain itu, Debenhams kurang mengoptimalkan penjualan musim liburan akhir tahun,” cetus Richard.

Hal senada diungkapkan Kate Calvert, analis Investec. Menurut dia, pesona Debenhams terkikis oleh geliat bisnis daring.

"Debenhams masih akan menghadapi tantangan bisnis dengan biaya operasional yang besar dan belum jelasnya strategi bisnis ke depan,” tuntas Kate.

https://properti.kompas.com/read/2018/01/06/234325421/di-negeri-asalnya-bisnis-debenhams-kian-remuk

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar