Salin Artikel

Ubah Strategi, karena Anak Milenial Tak Mudah Percaya Iklan!

Menurut Andy, generasi milenial tidak bisa dijanjikan hanya dengan iklan. Pengembang atau produsen harus bisa mengedukasi mereka akan manfaat produk hunian yang akan dibelinya.

"Digital marketing itu sudah benar, cuma banyak yang salah kaprah. Digital marketing hanya dianggap cukup dengan bermain iklan lewat media sosial seperti Facebook atau Youtube, tapi tidak mengubah paradigma berpikir mereka, para milenial itu. Kemampuan anak-anak itu (milenial) beli properti ada, tapi kemauannya untuk beli itu yang dilupakan. Itu butuh strategi," ujar Andy, Jumat (29/12/2017).

"Cara memasarkannya harus disruptif. Mereka (milenial) bukan tipe orang dulu, yang beli hunian lebih dari satu. Zamannya sudah berbeda," ujar Andy.

Sebelumnya, pada diskusi 'Membuka Ruang FLPP 2018 untuk mendukung Program Sejuta Rumah' di Bogor, Minggu (24/12/2017) lalu, Kepala Ekonom BTN Winang Budoyo menyatakan bonus demografi Indonesia akan menjadi peluang bagi pertumbuhan ekonomi secara khusus, dan properti hunian secara umum.

Hal itu terutama didukung dengan naiknya jumlah tenaga tenaga produktif di Indonesia yang jumlahnya saat ini kurang lebih 71 juta orang dan akan naik dua kali lipat menjadi 142 juta anak muda atau generasi meilenial.

Winang mengaku sadar bahwa ada perubahan perilaku pasar dari segmen yang besar ini. Pola spending uang kalangan ini berubah dari product base spending ke experince spending Baca:  Generasi Milenial Pilih Jalan-Jalan Ketimbang Beli Hunian.

Mereka (kaum milenial) harus merasakan dulu, lalu lihat produknya, dan atau mendapat rekomendasi dari orang lain terkait profuk yang akan dibelinya. Mereka tidak mudah percaya iklan yang disuguhkan, jadi harus benar-benar dari pengalaman langsung konsumen," ujar Winang.

Winang memahami bahwa anak-anak milenial lebih memilih menghabiskan uangnya untuk berwisata, makan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pengalaman, bukan aset. Tapi, hal itu seiring waktu akan segera berubah.

Pada akhirnya, lanjut Winang, generasi milenial akan tetap butuh hunian yang tentu sesuai kebutuhan dan perilakunya yang berbeda dari generasi sebelum mereka. Namun, hunian itu harus sangat sesuai ciri khasnya yang tak mau susah dan serba cepat. Maka, yang cocok adalah apartemen, dalam hal ini apartemen terintegrasi dengan transit oriented development atau TOD. Maka, harus dibangun dekat dengan shelter moda transportasi umum.

"Mereka tak butuh apartemen mewah. Yang penting di lingkungan harus ada internet (WiFi) dan tempat nongkrong. Memang, tidak semua anak-anak itu akan berpikir beli rumah. Maka itu, kini disiapkan apartemen-apartemen di dekat stasiun commuter line TOD, baik itu apartemen subsidi maupun nonsubsidi," tambah Winang.

https://properti.kompas.com/read/2017/12/29/105049121/ubah-strategi-karena-anak-milenial-tak-mudah-percaya-iklan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.