Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Generasi Milenial Pilih Jalan-Jalan Ketimbang Beli Hunian

Hal ini tecermin dari hasil survei KompasProperti terhadap 10 anak muda melalui metode questionaire yang dilakukan pada Minggu (12/11/2017).

Mereka menjawab 10 pertanyaan menyangkut adanya kemungkinan pembelian hunian rumah tapak atau apartemen dalam waktu dekat. 

Survei ini memang tidak merepresentasikan kondisi sesungguhnya preferensi generasi milenial Jadebotabek, namun setidaknya dapat memberikan gambaran betapa membeli hunian bukan perkara prioritas mereka.

Seluruhnya dari 10 responden yang lahir pada rentang 1982 hingga 1992 dengan pendapatan antara Rp 8 juta hingga Rp 35 juta per bulan ini, lebih memilih jalan-jalan ke luar kota dan luar negeri atau belanja leisure daripada membeli hunian.

Alasan yang dikemukakan, hampir seragam. Dengan jalan-jalan, mereka mendapat pengalaman, dan mengoleksi ingatan tentang kebudayaan, tempat-tempat indah, bahasa, makanan, dan pandangan-pandangan hidup yang berbeda.

"Banyak yang didapat, knowledge, cara bagaimana kota-kota dunia bisa maju, bagaimana mereka bisa bekerja sama dengan padu tanpa memandang perbedaan agama dan lain-lainnya. Itu bisa saya pelajari dengan keliling dunia," tutur Willy yang pernah singgah ke nyaris seluruh kota-kota penting dunia baik di Eropa, Amerika Serikat, maupun Asia.

Willy sendiri berpenghasilan Rp 8 juta per bulan. Dia sangat menyukai bepergian ke kota-kota dunia dengan penataan mumpuni. Maklum, anak muda berkaca mata ini juga merupakan pemerhati pembangunan perkotaan.

Jawaban senada diberikan I Made Mahendra Budhiastra (24 tahun) yang bekerja di sebuah hotel bintang lima Jakarta bagian server ini memastikan jalan-jalan adalah pilihan utama.

Mahendra ingin mengeksplorasi dunia lebih dalam daripada dipusingkan dengan cicilan rumah dengan suku bunga tinggi.

"Jalan-jalan lebih berharga," kata Mahendra yang memiliki pendapatan sekitar Rp 9 juta-Rp 10 juta per bulan.

Ardhi Soetadi (27 tahun), Jerry Ferdinand Kambey (26 tahun), Denis Kurniawan (30 tahun), Adrianus Satrio Adinugroho (31 tahun), Dewi Kartika Rahmayanti (34 tahun), Herlina Febryan (34 tahun), Aloysius Andre Wahono (26 tahun), dan Wawan Prasetyawan (29 tahun) juga menjawab mantap; jalan-jalan!

"Jalan-jalan itu kebutuhan spiritual yang bisa menjadi semacam healing buat kita melepas penat setelah berkutat dengan pekerjaan," kata gadis berkaca mata ini.

Walau dengan tiket promo, Herlina tercatat sudah mengunjungi berbagai tempat yang memiliki perbedaan fundamental dengan domisilinya sekarang di Bogor. 

Harga rumah "overpriced"

Meski hunian bukan prioritas, namun mereka tetap berharap dapat membeli rumah atau apartemen sendiri. Kapan mereka akan membeli hunian?

Kecuali Dewi dan Adrianus yang telah memiliki hunian sendiri usai menikah dan telah dikaruniai masing-masing satu anak, kedelapan responden lain lagi-lagi memberikan jawaban serupa yakni, menabung dulu.

"Tunggu sampai tabungan cukup. Memang sih, bisa dicicil, cuma mau siapkan buffer dulu just in case ada apa-apa," kata Denis yang bekerja sebagai Internal Audit Manager perusahaan milik konglomerat Indonesia dan berpendapatan Rp 35 juta per bulan. 

Kalaupun ada hunian yang dekat dengan tempat kerja dan berkualitas, harganya selangit. Selebihnya adalah, hunian dengan kualitas ala kadarnya.


Ardhi yang merupakan IT Consultant Accenture Plc bergaji 2.000 Euro, menyebut memiliki hunian di Jadebotabek tidak sepadan dengan harganya.

Hunian seperti kandang ayam dibanderol dengan harga luar biasa tinggi, menyebabkan dia tidak berminat membelinya.

"Harga properti di Indonesia tidak terstandarisasi. Jadi, pengembang seenaknya mematok harga. Kalau ada standarisasi, misalnya dari sisi keamanan, koneksi dengan transportasi umum, sambungan kabel internet, air panas, dan lain-lain, sangat layak dihargai tinggi," beber Ardhi.

Jerry yang pernah bekerja di Agung Sedayu Group mengamini pendapat Ardhi. Menurut dia, harga hunian di Jakarta dalam tiga tahun terakhir memang terlalu tinggi dan sangat tidak wajar.

Jika sebelumnya, harga apartemen di kawasan Thamrin yang dikembangkan Agung Podomoro Group bisa diakses hanya dengan Rp 300 juta, sekarang dengan harga yang sama justru hanya bisa mendapat apartemen di pinggiran Jakarta.

"Tak wajarnya harga hunian di Jakarta adalah akibat praktik goreng-menggoreng harga oleh pengembang," kata Jerry yang sekarang berkarir sebagai Project Manager Charles & Keith|Pedro ini.

Adrianus pun berpendapat harga hunian, terutama rumah tapak di Jakarta memang sudah tidak mungkin terjangkau oleh generasi milenial.

"Harus ngos-ngosan belinya," kata dia.

Karena itu, Adrianus yang berprofesi sebagai penjual mobil seken mengaku, berpaling ke kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, yang harganya sedikit miring. Meski harganya mencapai Rp 1,1 miliar, bapak satu anak ini nekat membelinya.


Sementara Dewi Kartika membeli hunian seharga di bawah Rp 200 juta di Depok ketika sudah memiliki anak pada usia 27 tahun.

"Saya membelinya melalui KPR, join income dengan suami. Selain itu, uang mukanya terjangkau," kata perempuan yang berprofesi sebagai communication consultant ini.

Dengan tambahan cicilan KPR ini, Dewi dan suami harus mengeluarkan pos rutin bulanan sekitar Rp 20 juta.

Sistem sewa

Dewi menganalisa, bekerja di Jakarta dan membeli rumah di kota satelit jelas bukan pilihan generasi milenial. 

Mereka, kata dia, lebih suka tinggal di lokasi dengan kemudahan akses ke mana pun. Termasuk akses ke kantor, dan ke tempat aktivitas sehari-hari.

Jarang ada generasi milenial yang mau mengenyampingkan kenyamanan dengan memilih rumah yang jauh tapi murah.

Oleh sebab itu, dia menyarankan kepada pemerintah untuk mengontrol harga tanah dan properti, serta menyediakan hunian susun untuk generasi milenial yang masih single dengan sistem sewa. 

Sementara Adrianus meminta pemerintah memperbanyak apartemen terintegrasi transit oriented development (TOD) dengan memberikan subsidi murah.

"Jadi, generasi milenial bisa punya hunian di tengah kota dan berefek mengurangi kemacetan juga," tuntas dia.

https://properti.kompas.com/read/2017/11/12/234255621/generasi-milenial-pilih-jalan-jalan-ketimbang-beli-hunian

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar