Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Tiga Wilayah Kumuh di Kabupaten Semarang Adopsi Progam "Kotaku"

Sejak dimulai tahun 2016 lalu, program dengan sasaran masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sudah berjalan di Desa Bejalen, Ambarawa.

"Program ini tidak seperti jalan tol, jebret langsung besar. Butuh proses karena berhubungan dengan perilaku," kata Rina saat ditemui di dermaga Bukit Cinta Brawijaya, kawasan Rawapening, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Sabtu (5/8/2017) kemarin.

Menurut Rina, program Kotaku tidak hanya mengembangkan dan menata kawasan lingkungan, akan tetapi juga perilaku masyarakatnya.

Dia berharap seluruh kawasan kumuh di Kabupaten Semarang juga akan menerapkan konsep Kotaku ini.

"Masyarakat juga wajib terlibat untuk melaksanakan programnya, sehingga ada kolaborasi antara Pemrintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten dengan nahkodanya adalah Pak Bupati," tuturnya.

Sementara itu Bupati Semarang Mundjirin, mengatakan tahun ini Pemkab Semarang akan menjalankan program Kotaku di tiga wilayah. Yakni di Kelurahan Tambakboyo (Ambarawa), Kelurahan Gedanganak dan Desa Kalikayen (Ungaran Timur).

"Nantinya akan menyusul lagi di enam wilayah pada tahun 2018," kata Mundjirin.

Dia menjelaskan, pada tahun 2016 program Kotaku telah dilaksanakan di Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa.

Program ini bertujuan untuk menyelesaikan lingkungan kumuh di perkotaan dengan nakhoda pemerintah daerah.

"Indikator kumuh yang dipakai mengacu pada Permen PU Nomor 2 Tahun 2016, yakni dilihat dari bangunan hunian, jalan lingkungan, penyediaan air minum, drainase lingkungan, pengelolaan air limbah, pengelolaan sampah dan pengamanan kebakaran," lanjutnya.

Selain permasalahan infrastruktur, Mundjirin juga berharap supaya masyarakat penerima manfaat program dapat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.

Dia mengakui untuk mengubah perilaku warga di daerah kumuh bukanlah hal yang mudah.

"Perilaku warga akan mempengaruhi mutu kehidupan mereka, sedangkan untuk mengubah perilaku juga bukan perkara yang mudah. Oleh karena itu Kotaku harus mampu memberikan solusi untuk mengentaskan mereka dari kehidupan yang kumuh," tuntasnya.

Seperti diketahui, Kotaku adalah program pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh nasional yang merupakan penjabaran dari pelaksanaan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya tahun 2015 –2019.

Sasaran program ini adalah tercapainya pengentasan permukiman kumuh perkotaan menjadi 0 Hektar melalui pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh seluas 38.431 Hektar.

Serta meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di kawasan kumuh perkotaan untuk mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif dan berkelanjutan.

https://properti.kompas.com/read/2017/08/08/080000221/tiga-wilayah-kumuh-di-kabupaten-semarang-adopsi-progam-kotaku-

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar